
NTB,, patroli86.com.,, Perayaan natal dan tahun baru 2025/2026 menjadi momentum krusial bagi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebagai daerah tujuan wisata unggulan nasional dengan ikon Lombok, Sembalun, Gili, dan Mandalika, NTB menghadapi tantangan ancaman mulai dari sektor keamanan, potensi gejolak sosial, hingga risiko bencana alam akibat cuaca ekstrem.
Sebagai langkah antisipasi dan wujud empati terhadap kondisi kebencanaan. Pemerintah Provinsi NTB resmi meniadakan perayaan malam Tahun Baru 2026 yang terpusat.
Kegiatan tersebut digantikan dengan zikir dan doa bersama. Hal ini sebagai bentuk solidaritas serta upaya menjaga suasana tetap kondusif. “Peniadaan perayaan malam tahun baru terpusat merupakan langkah preventif sekaligus refleksi spiritual menghadapi potensi bencana dan dinamika keamanan,” ujar Kasubdit III Dit Intelkam Polda NTB, Kompol Setia Wijatono, S.H., M.H., dalam Workshop Antisipasi Ancaman dan Gangguan Perayaan Nataru di NTB serta Rapat Kerja Forum Wartawan Pemprov NTB.
Peningkatan aktivitas masyarakat di pusat keramaian seperti objek wisata, pusat perbelanjaan, dan lokasi perayaan akhir tahun. Arus mudik dan mobilitas warga lokal yang meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Ancaman kriminalitas konvensional seperti pencurian, perampokan, curat, curas, curanmor, serta peredaran minuman keras ilegal dan petasan.
Selain ancaman keamanan, sejumlah isu strategis turut berpotensi memicu gejolak sosial. Diantaranya rencana penetapan Hari Mualaf Sedunia pada 25 Desember 2025 oleh kelompok ulama tertentu yang dinilai sensitif karena bertepatan dengan Hari Raya Natal. Demikian juga polemik status tenaga honorer menjelang batas akhir 31 Desember 2025 sesuai UU ASN. Meskipun pemerintah telah menyiapkan skema PPPK Paruh Waktu.
Ancaman lain yang tak kalah serius adalah cuaca ekstrem. Berdasarkan prakiraan BMKG, NTB berpotensi mengalami dampak siklon tropis yang memicu hujan lebat disertai angin kencang. Banjir dan tanah longsor serta pohon tumbang. Gelombang tinggi di wilayah pesisir. “Aparat keamanan bersama pemerintah daerah telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi risiko bencana selama periode (Nataru), namun “Secara umum, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di NTB masih terpantau kondusif, dengan Polda NTB dan Polres jajaran melakukan kesiapan pengamanan secara terpadu,”ujarnya.
Menurut Kepala Badan Intelijen Negara Daerah NTB, Amirudin juga mengungkapkan bahwa peran strategis media massa saai ini sebagai kunci menjaga stabilitas keamanan dan citra daerah selama Nataru, dan menekankan peran media sebagai sarana peringatan dini Khususnya menghadapi dinamika cuaca ekstrem dan potensi gangguan kamtibmas.“Perubahan cuaca sangatlah cepat. dalam hal ini menyampaikan peringatan dini menjadi sangat penting untuk keselamatan masyarakat, media juga pokok sebagai penentu utama narasi publik yang berdampak langsung pada rasa aman masyarakat dan kepercayaan wisatawan,”tegasnya.
Red/0val








