
Kuching, Sarawak – patroli 86.com ,,, 18 Juni 2026
Sejumlah warga negara Indonesia di wilayah Kuching, Malaysia, menyampaikan pengalaman terkait kendala komunikasi saat beraktivitas sehari-hari. Hal ini disampaikan kepada redaksi pada Rabu, 18 Juni 2026.
Menurut keterangan yang diterima, perbedaan logat, istilah, dan budaya membuat sebagian WNI/TKI merasa kesulitan saat berinteraksi dengan warga lokal. Contohnya, penggunaan kata “ngopi” yang umum di Indonesia, belum tentu dipahami langsung oleh masyarakat setempat sehingga perlu penyesuaian bahasa.
Pakar bahasa dan budaya Melayu-Serumpun menjelaskan, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia memiliki banyak kemiripan, namun juga perbedaan kosakata dan gaya tutur. Hal ini wajar terjadi pada dua negara serumpun yang berkembang berbeda.
KBRI Kuala Lumpur dan KJRI Kuching sebelumnya mengimbau WNI di Malaysia untuk membekali diri dengan pemahaman dasar bahasa Melayu Malaysia agar lebih mudah beradaptasi, bekerja, dan bersosialisasi. Kendala bahasa ini juga menjadi salah satu materi pembekalan bagi calon pekerja migran.
Catatan Redaksi:*
Keterangan warga diterima redaksi 18 Juni 2026. Merupakan pengalaman pribadi, bukan data resmi.
Redaksi tidak bermaksud merendahkan budaya/daerah manapun. “Kucing” yang dimaksud merujuk pada Kota Kuching, Sarawak, Malaysia.
Perbedaan bahasa adalah hal umum antar negara serumpun dan bisa diatasi lewat adaptasi serta saling belajar.
Redaksi terbuka menerima masukan dari KJRI Kuching, KBRI KL, komunitas WNI, dan masyarakat Malaysia untuk melengkapi perspektif.
Tips cepat biar “ngopi” lancar di Kuching:*
Ngopi* = Di Malaysia lebih umum bilang “minum kopi” ata
lepak minum kopi”
Warung kopi* = “Kedai kopi” / “Kopitiam
Duduk santai* = “Lepak”thomas dp)








