
Halmahera Selatan//Patroli86.com// – Keterbatasan sumber air bersih kembali dirasakan warga Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan. Memasuki musim kemarau, sebagian warga terpaksa memanfaatkan air yang mereka sebut air salobar, yakni air yang diperoleh dengan cara menggali tanah secara manual di sekitar bebatuan pinggir pantai.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Bahkan, ketika persediaan air di sekitar desa tidak mencukupi, warga harus menyeberangi laut menuju daratan wilayah Gane untuk mendapatkan air bersih.
Saat hujan tidak turun dalam waktu yang cukup lama, warga menggali tanah menggunakan peralatan sederhana seperti linggis dan pacul. Lubang galian tersebut kemudian digunakan untuk menampung air yang keluar dari dalam tanah.
Air yang diperoleh dari galian tersebut disebut warga sebagai air salobar. Warga mengaku terpaksa memanfaatkannya karena keterbatasan sumber air bersih yang dapat diakses dari desa.
Salah seorang warga, Budi, mengatakan masyarakat selama ini mengandalkan suplai air bersih dari wilayah daratan Gane. Selain itu, warga juga menampung air hujan ketika turun.
“Selain mengandalkan suplai air bersih dari daratan wilayah Gane, warga juga menunggu kalau hujan turun. Kalau hujan, kami tampung di bokor maupun ember-ember,” ujar Budi.
Menurut warga, kondisi geografis Desa Dowora yang berada di wilayah kepulauan menjadi salah satu kendala dalam memperoleh air bersih. Untuk mendapatkan air dari Desa Awis, warga harus menggunakan perahu ketinting dan menempuh perjalanan laut yang disebut dapat mencapai sekitar dua jam, tergantung kondisi perjalanan.
Kebutuhan bahan bakar serta kondisi cuaca dan gelombang laut juga menjadi pertimbangan bagi warga. Ketika kondisi laut tidak memungkinkan untuk menyeberang, warga harus memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar desa.
Kepala Desa Dowora, Eli Saleh, bersama warga bahkan turun langsung mencari sumber air dengan menggali tanah di sekitar bebatuan pinggir pantai. Warga membawa jerigen dan wadah lainnya untuk mengambil air yang tersedia.
Persoalan keterbatasan air bersih tersebut disebut warga bukan merupakan persoalan baru. Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang lebih permanen sehingga kebutuhan air bersih masyarakat tidak terus bergantung pada curah hujan, suplai dari daratan, maupun sumber air hasil galian manual.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, maupun pemerintah pusat dapat memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut dan mencari solusi penyediaan air bersih yang sesuai dengan kondisi geografis Desa Dowora.
Bagi warga, tersedianya sumber air bersih yang mudah diakses dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka berharap ke depan tidak lagi harus menempuh perjalanan laut atau menggali tanah di sekitar pantai hanya untuk memperoleh air.
(Tim red)







