
Halmahera selatan//Patroli86.com// — Keterbatasan ekonomi bukan alasan bagi Silfani Abubakar untuk berhenti mengejar cita-cita. Sempat menunda kuliah selama satu tahun karena keterbatasan biaya, Silfani akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi dan diwisuda pada Sabtu, 5 September 2026.
Perjuangan tersebut terasa semakin membanggakan setelah Silfani mampu menyelesaikan pendidikannya dengan masa studi delapan semester serta meraih prestasi akademik sebagai lulusan dengan nilai tertinggi kedua, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,70.
Silfani merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di Kabupaten Halmahera Selatan. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai tukang panjat kelapa, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuat berbagai jenis kue untuk dititipkan dan dijual di warung-warung.
Kondisi ekonomi keluarga sempat menjadi tantangan besar dalam perjalanan pendidikan Silfani. Keterbatasan biaya membuatnya harus mengambil keputusan berat untuk berhenti sementara dari bangku kuliah selama satu tahun.
Namun, keputusan tersebut tidak memadamkan keinginannya untuk meraih gelar sarjana. Setelah masa penundaan berakhir, Silfani kembali melanjutkan pendidikannya di Institut Sains dan Kependidikan (ISDIK) Kie Raha Maluku Utara, Ternate, dan mengambil Program Studi Biologi.
Sejak kembali ke bangku kuliah, Silfani berusaha menjalani setiap proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang baginya untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada Sabtu, 5 September 2026, Silfani resmi menyelesaikan pendidikan perguruan tingginya. Ia berhasil menuntaskan studi dengan IPK 3,70 dan meraih predikat sebagai peraih nilai tertinggi kedua.
Sebelum menempuh pendidikan tinggi, Silfani mengawali pendidikannya di SD Negeri Waya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Alkhairaat Labuha, sebelum meneruskan pendidikan ke SMA Alkhairaat Labuha dan menyelesaikannya pada tahun 2021.
Bagi keluarga, keberhasilan Silfani bukan sekadar pencapaian akademik. Gelar sarjana yang diraihnya menjadi buah dari perjuangan panjang keluarga dalam mendukung pendidikan anak, di tengah kondisi ekonomi yang sederhana.
Perjuangan sang ayah sebagai tukang panjat kelapa dan usaha sang ibu membuat serta menitipkan kue di warung-warung menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pendidikan Silfani.
Kisah tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Ketekunan, kemauan untuk bangkit, serta dukungan keluarga dapat menjadi kekuatan untuk melewati berbagai tantangan.
Perjalanan Silfani juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana, agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan.
Sebab, perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan lurus. Terkadang seseorang harus berhenti sejenak, menghadapi keterbatasan, lalu kembali melangkah dengan tekad yang lebih kuat hingga akhirnya mampu mencapai cita-cita.
(Tim Red)








