
Denpasar, Bali 16 September 2026 Perjuangan melawan kanker bukan sekadar soal pengobatan medis semata, melainkan juga tentang menjaga harapan, memperkuat ketangguhan mental, serta memberikan dukungan tulus bagi para pasien dan keluarga mereka. Semangat inilah yang menjadi benang merah sinergi antara Yayasan Tripanglipur Initiative Indonesia (YTII) bersama Yayasan Sadar Kanker, yang menyelenggarakan kegiatan bertema “Bersama Menumbuhkan Harapan” pada Rabu, 16 September 2026 di Denpasar.
Kegiatan ini menghadirkan Elisabeth Meliana, Ketua Yayasan Sadar Kanker, yang dengan penuh keikhlasan membagikan perjalanan hidupnya yang luar biasa dari diagnosis kanker lidah hingga kesembuhan yang menjadi berkat bagi ribuan orang.
DIAGNOSIS DAN KEPUTUSAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Pada tahun 2014, Elisabeth didiagnosis menderita kanker lidah dan menjalani pengobatan di Penang, Malaysia. Namun perjalanan itu tidak berjalan sesuai rencana medis. Setelah hanya menjalani setengah dari jumlah pengobatan yang dijadwalkan, ia merasa hatinya dipanggil untuk pulang ke Indonesia. “Dokter berkata: ‘Anda ini stadium akhir, kalau pulang, ada apa-apa tidak ada obatnya.’ Namun saya banyak berdoa, dan saya merasa saya harus pulang,” kenangnya. Saat itu, kondisi lidahnya sudah sangat kritis jahitan pasca-operasi mulai lepas, lidah tampak retak, nyaris putus. Namun setelah pulang, menjalani gaya hidup sehat, berdoa, dan berpuasa dari segala jenis minyak, ia menyaksikan keajaiban lidahnya perlahan merekat kembali dan sembuh.
Perjalanan sakit itu justru menjadi momen pencerahan. Ia menyadari bahwa selama ini ibadahnya lebih didorong oleh rasa takut, bukan oleh kasih dan syukur. “Kita dilahirkan untuk tujuan Tuhan, bukan untuk menyuruh Tuhan mengabulkan keinginan kita. Itu terbalik,” ujarnya. Ketika Tuhan memberinya kesempatan hidup kedua kalinya, ia berjanji selama masih bisa bernapas, berbicara, dan berdiri, ia akan melakukan yang terbaik setiap hari untuk melayani sesama.
LAHIRNYA YAYASAN SADAR KANKER MENDAMPINGI, BUKAN HANYA MENGOBATI
Berawal dari keinginan tulus membantu orang-orang yang sedang berjuang melawan kanker, Elisabeth mulai berbagi dan mendampingi pasien. Atas saran rekan-rekan dokter, pada September 2014 dimulailah kegiatan sosial, dan pada 20 Mei 2015, Yayasan Sadar Kanker resmi berbadan hukum.
Visi misi yayasan ini sederhana namun mendalam mengedukasi dan mendampingi pasien serta keluarga, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga mental, emosional, dan spiritual. Elisabeth menjelaskan bahwa kanker bukan sekadar penyakit fisik — banyak pasien yang jatuh sakit karena kesedihan mendalam, kehilangan orang yang dicintai, penyesalan yang tak terselesaikan, atau ketidakmampuan memaafkan. Semua itu berdampak besar pada kesehatan.
“Kita tidak bisa menjanjikan kesembuhan seratus persen. Tapi kita bisa mendampingi, memberikan harapan, mengubah pola pikir, dan mengajak mereka berdamai dengan diri sendiri, melepaskan pengampunan, dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Itulah yang paling penting,” tegasnya.
TRIPANGLIPUR YTII SIAPKAN TEMPAT PENDAMPINGAN DI DENPASAR RUMAH HARAPAN BAGI SEMUA
Langkah nyata kerja sama ini terwujud dengan kesiapan Yayasan Tripanglipur Initiative Indonesia (YTII) dalam menyiapkan tempat yang akan dijadikan pusat pendampingan bagi pasien kanker, keluarga, serta lansia yang membutuhkan kasih dan perhatian. Tempat tersebut berlokasi di Jalan Mahendradata, Denpasar Bali.
Elisabeth menyambut baik dan sangat berterima kasih atas kepedulian YTII yang menyediakan tempat ini sebagai “rumah kedua” bagi siapa saja yang membutuhkan. “Anggaplah itu rumah sendiri. Bisa berkumpul, berbagi, saling menguatkan. Konsultasi juga bisa melalui WhatsApp maupun media sosial, sehingga masyarakat di seluruh Bali tidak perlu merasa berjuang sendirian,” ujarnya hangat. Tempat ini juga akan menampung para lansia yang terlantar, menjadi ruang kasih dan penghiburan bagi semua.PESAN PENUTUP JANGAN NAIK KERETA ORANG LAIN
Di penghujung pertemuan, Elisabeth menyampaikan pesan khusus bagi masyarakat Bali.”carilah apa tujuan hidupmu dari Tuhan,lalu lakukan dengan segenap hati .Jangan baru sakit baru berpikir, nanti menyesal.Lakukan yang terbaik setiap hari, sekalipun hanya untuk satu orang yang kamu bantu itu sudah bermakna besar”
Beliau menyampaikan definisi kegagalan yang sangat menyentuh.”Definisi gagal itu bukan soal tidak berhasil.Definisi gagal itu adalah ketika kita sukses melakukan hal-hal yang sebenarnya Tuhan tidak menyuruh kita lakukan.Kita berhasil,tapi di jalan yang salah, itulah kegagalan yang sesungguhnya.”









