
Jakarta, – Patroli86.com, 25/6/2025,-– Sengketa lahan antara Kelompok Tani Usaha Bersama (Poktan UBM) dan PT Berau Coal memasuki babak baru yang kian memanas setelah putusan Pengadilan Negeri Kelas II Tanjung Redeb, Berau, menolak gugatan Poktan UBM.
Putusan dengan Nomor 43/Pdt.Sus-lh/2024/PN.Tnr pada 16 Juli 2025 tersebut dinilai “NO” (Niet Ontvankelijk Verklaard), memicu reaksi keras dari pihak penggugat.
Tidak tinggal diam, M. Rafik, Kuasa Kepengurusan sekaligus Koordinator Poktan UBM, didampingi Panglima Mandau dan sejumlah Pasukan Merah Seribu Satu Mandau, langsung mengambil langkah hukum lanjutan. Pada Kamis, 24 Juli 2025, mereka mendatangi Badan Pengawas Mahkamah Agung RI dan Komisi Yudisial RI di Jakarta.
“Kami datang ke Badan Pengawas Mahkamah Agung RI dan Komisi Yudisial untuk melaporkan adanya dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelas II Tanjung Redeb,” tegas M. Rafik.
Rafik mengungkapkan, pihaknya menemukan bukti surat yang diduga kuat palsu dalam fakta persidangan. Namun, bukti krusial ini justru tidak menjadi pertimbangan Majelis Hakim.
“Apakah Hakim ‘masuk angin’? Ya, mungkin saja,” sindir M. Rafik, menyiratkan keraguan terhadap integritas proses peradilan.
“Kami akan terus melawan kedzaliman, kami akan terus berjuang untuk mendapatkan keadilan,” pungkas Rafik, menegaskan komitmen Poktan UBM.
Ia bahkan tidak menutup kemungkinan akan menghadap langsung Bapak Presiden H. Prabowo Subianto untuk menyampaikan keluhan mereka.
Di kesempatan yang sama, Panglima Mandau menyatakan dukungan penuh dari Pasukan Merah Seribu Satu Mandau.
“Kami Pasukan Merah Seribu Satu Mandau akan terus mengawal proses hukum yang ditempuh oleh Kelompok Tani Usaha Bersama.
Kami akan berada menjadi garda terdepan membela hak-hak masyarakat yang dirampok oleh PT. BC,” ujarnya dengan nada tegas.
Panglima Mandau juga menyampaikan seruan langsung kepada Presiden, memohon perhatian terhadap nasib rakyat yang lahannya dirampas. “Bapak Presiden kami, Bapak H. Prabowo Subianto, tolong kami! Dengarlah jeritan rakyatmu yang tanahnya telah dirampas oleh kaum oligarki,” serunya.
Ia meyakini bahwa hati nurani Presiden akan tergerak melihat penderitaan masyarakat yang hidupnya jauh dari sejahtera, lantaran hal ini bertentangan dengan Program Asta Cita yang selama ini diagung-agungkan.
“Tolong kami, Pak! Kami juga rakyatmu, kami yang memilih Bapak untuk menjadi pemimpin kami yang bisa memberikan harapan baru bagi kami,” tutupnya penuh harap.
——-IRWANSYAH——–








