
Bali,, patroli86.com ,, Ketut Purniti seorang spiritual penekun Kitab Suci Bhagavad Gita memberikan penjelasan pada Awak media, bagaimana peran seorang istri dalam Srimad Bhagavatam 3.14.17-21
eṣa te’haṁ vidhāsyāmi
priyaṁ bhīru yad icchasi
tasyāḥ kāmaṁ nakaḥ kuryāt
siddhis traivargikī yataḥ
Tiga kesempurnaan pembebasan adalah religiusitas, pengembangan ekonomi dan kepuasan indria. Bagi jiwa yang terikat, istri dianggap sebagai sumber pembebasan karena dia menawarkan jasanya kepada suami untuk pembebasan hakikinya.
Kepuasan material didasarkan pada kepuasan indria, jika seseorang beruntung mendapatkan istri yang baik, dia akan dibantu oleh istrinya dalam segala hal. Seorang istri yang setia, bekerja sama dengan suaminya dalam memenuhi semua keinginan material sehingga dia kemudian dapat merasa nyaman dan melakukan kegiatan spiritual untuk kesempurnaan hidup.
Jika suami mengalami kemajuan spiritual, istri niscaya turut serta dalam kegiatannya, dengan demikian baik istri maupun suami memperoleh manfaat dari kesempurnaan spiritual. Seorang istri yang setia dan brahmacārī yang terlatih secara spiritual adalah kombinasi yang baik untuk kemajuan misi manusia.
Ketika orang biasa melakukan kesalahan, konsekuensinya biasanya tidak terlalu serius, tetapi ketika orang besar, yang memiliki posisi bertanggung jawab, konsekuensinya bisa sangat serius.
Seorang raja yang melakukan kesalahan dapat mengakibatkan kehancuran seluruh negeri. seorang resi seperti Kaśyapa Muni dapat menghasilkan anak-anak yang sangat kuat, baik secara positif maupun negatif. Dalam kasus ini, kesalahan tersebut mengakibatkan lahirnya dua asura yang kuat.
Wahai yang tersiksa, aku (Kasyapa) akan segera memuaskan keinginan apapun yang kau inginkan, karena siapa lagi selain dirimu yang menjadi sumber tiga kesempurnaan pembebasan? Dengarkan pejelasanku,
Sebagaimana seseorang dapat menyeberangi samudra dengan kapal, seseorang dapat menyeberangi situasi berbahaya samudra material dengan hidup bersama seorang istri.
Seorang istri sangat membantu sehingga disebut sebagai separuh tubuh pria yang lebih baik karena ikut serta dalam semua kegiatan yang bermanfaat. Seorang pria dapat bergerak tanpa rasa cemas dengan mempercayakan semua tanggung jawab kepada istrinya.
Sebagaimana seorang komandan benteng dengan mudah menaklukkan penjarah yang menyerbu, dengan berlindung pada seorang istri seseorang dapat menaklukkan indera, istri tak terkalahkan dalam tatanan sosial lainnya.
Wahai ratu rumah tangga, kami tak mampu bertindak seperti dirimu, kamipun tak mampu membalas budi atas apa yang telah engkau lakukan, bahkan jika kami bekerja seumur hidup atau bahkan setelah kematian. Membalas budi kepadamu adalah hal yang mustahil, bahkan bagi mereka yang memiliki kualitas pribadi.
Istri adalah sumber dari tiga kesempurnaan pembebasan, dalam arti, istri yang baik membantu suaminya dalam menjalankan kewajiban agama, pengembangan ekonomi dan kepuasan indera.
Seorang pria bijak dapat menggunakan fasilitas ini untuk maju dengan damai dalam praktik spiritual dan dengan demikian mencapai kesempurnaan tertinggi. Dengan melayani suami seperti itu, seorang istri juga berbagi pencapaiannya, dan dengan demikian keduanya mendapatkan manfaat, sama-sama meraih kesempurnaan rohani.
Kehidupan didunia material sangat berbahaya, seorang pria dapat dengan mudah merendahkan dirinya dengan menjadi korban petualangan seksual, sebagaimana dalam kisah Ajamila.
Seorang istri yang setia dapat melindungi seseorang dari bahaya petualangan seksual, dengan membantunya mengendalikan indranya dan menyalurkan hasrat seksualnya secara positif, untuk menghasilkan anak-anak yang baik.
Indra-indra jasmani dianggap sebagai penjarah benteng tubuh. Istri dianggap sebagai komandan benteng, dan oleh karena itu, setiap kali tubuh diserang oleh indra, istrilah yang melindunginya agar tidak hancur. Tuntutan seksual tak terelakkan bagi setiap orang, tetapi orang yang memiliki istri tetap akan terselamatkan dari gempuran musuh-musuh indra.
Selain jiwa-jiwa luhur yang memiliki kecenderungan kepada para Brahmacari dan Sannyasi yang tepat, hampir setiap orang memiliki kecenderungan untuk melakukan aktivitas material.
Aktivitas-aktivitas material dapat disucikan dengan menjalankan kewajiban keagamaan dengan benar dalam kehidupan keluarga, bekerja dengan semangat melepaskan diri, sebagaimana diajarkan dalam Bhagavad-Gita. Pernikahan adalah sebuah institusi yang menawarkan jalan bagi seseorang, untuk secara bertahap menjadi suci dan maju dalam pemahaman spiritual.
Karena semua jenis pelayanan ini, seorang suami memiliki utang besar kepada istrinya, yang harus dibayar dengan membantu istrinya maju secara spiritual, tidak ada cara untuk membayarnya.
Setelah menyampaikan pokok-pokok tersebut, Kaśyapa Muni menenangkan dirinya sejenak dan mulai berbicara dengan lebih tenang, sambil mengemukakan bahwa tidak keberatan dengan gagasan untuk memiliki anak, seperti yang diinginkan Diti, mereka harus menunggu waktu yang tepat.
Meskipun mustahil untuk membalas budimu, aku akan segera memuaskan hasrat seksualmu demi memiliki anak. Namun, tunggulah beberapa detik saja agar orang lain tidak mencelaku. Waktu khusus ini sangat tidak menguntungkan karena pada saat ini, hantu-hantu yang tampak mengerikan dan teman-teman setia penguasa para hantu, dewa Śhiva, duduk dipunggung kereta bantengnya, bepergian patroli alam semesta saat ini, ditemani oleh para hantu yang mengikutinya demi kesejahteraan mahluk. (SB 3.14.22-24)
Diti harus menunggu Kaśyapa ketika sedang menjalankan ibadahnya, setidaknya satu muhurta, agar mereka memasuki waktu yang tepat. Satu muhurta berlangsung selama 48 menit, karena itu, dia meminta Diti untuk menunggu.
Dewa Shiva berjalan mengelilingi bumi saat matahari terbenam, berpatroli ditemani oleh rekan-rekannya, para hantu dan roh. Dengan ketiga mataNya, dapat melihat segalanya, sehingga jika melihat sepasang kekasih sedang bersetubuh pada saat itu, Beliau memanfaatkan kesempatan itu untuk mengirim salah satu rekan tersebut untuk menjadi anak mereka.
Ini merupakan berkah bagi hantu yang mendapatkan kesempatan hidup sebagai manusia, tetapi tidak menyenangkan bagi pasangan tersebut, yang harus membesarkan anak yang begitu tamasik. Dengan demikian, ini merupakan semacam hukuman bagi pasangan tersebut karena tidak menghormatiNya dengan cara seperti itu. Memahami situasi ini, Kaśyapa merasa khawatir akan hal ini.
Periode yang menandai peralihan antara malam dan siang (fajar dan senja) disebut sandhya. Waktu terbaik melantunkan mantra Gayatri dan bermeditasi kepada Tuhan, sehingga sangat dilarang untuk pembuahan.
Peralihan waktu fajar kesenja, menjelang malam, merupakan waktu dewa Shiva berkeliling dunia bersama para gana, hantu-hantunya. Karena berbelas kasih kepada mereka, Beliau mengatur agar salah satu dari mereka lahir dari pasangan manapun yang melakukan penyatuan pada saat itu.
Salah satu tujuan utama kehidupan berkeluarga dalam kesadaran Krsna, adalah melahirkan anak yang baik, kegiatan ini mengajarkan faktor penting dalam hubungan ini, yaitu memilih waktu yang tepat untuk pembuahan.
Sandhya sore berakhir 24 menit setelah matahari terbenam, tetapi akan bervariasi tergantung tempat dan musim. Untuk berjaga-jaga, disarankan untuk menunggu setidaknya satu jam setelah matahari terbenam.
Waktu yang diizinkan untuk pembuahan kemudian berlanjut hingga tengah malam. Setelah waktu ini, pagi hari dimulai, yang juga merupakan waktu terlarang. Kitab suci menyebutkan bahwa seorang pria yang melakukan aktivitas seksual hanya pada waktu yang diizinkan dimalam hari dianggap sebagai seorang brahmacari, bahkan saat sedang memiliki anak dalam kehidupan berkeluarga.
“Loka samasta sukhino bhavantu* semoga semua mahluk hidup berbahagia di dunia ini.Tutup Ketut Purniti mengakhiri penjelasanya.
Team









