
Halmahera selatan//Patroli86.com// — Aliansi Revolusi Agromaritim menyoroti kondisi transportasi laut di wilayah kepulauan Kabupaten Halmahera Selatan yang dinilai belum berjalan optimal, khususnya di Pelabuhan Obi, Pelabuhan Loleo Jaya, dan Pelabuhan Laut Indari. Aliansi yang terdiri dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Indari (IPMI), Gerakan Pemuda Pelajar Mahasiswa Loleo Jaya (GPPML), dan Gerakan Persatuan Mahasiswa Obi (GPMO) Maluku Utara tersebut menilai kondisi itu berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat kepulauan.
Koordinator Lapangan Aliansi Revolusi Agromaritim, Alfian M. Hamzah, mengatakan transportasi laut merupakan jalur utama yang menopang mobilitas masyarakat, distribusi barang, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan. Namun, pengelolaannya dinilai belum memberikan kepastian layanan bagi warga.
,“Transportasi laut adalah urat nadi kehidupan masyarakat kepulauan. Ketika jadwal kapal tidak pasti dan pelabuhan tidak berfungsi optimal, yang terdampak langsung adalah masyarakat,” ujar Alfian dalam keterangannya, Senin (26/01/2026).
Aliansi mencatat, di Pelabuhan Obi, ketidakpastian jadwal kapal telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menyebabkan mobilitas warga terganggu, distribusi barang terhambat, serta berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
,“Masyarakat Obi kesulitan bergerak, barang terlambat masuk, dan harga kebutuhan pokok meningkat. Ini menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar warga kepulauan,” tegasnya.
Sementara itu, di Pelabuhan Loleo Jaya, Aliansi menilai pembangunan infrastruktur pelabuhan belum diiringi dengan pengoperasian kapal secara rutin. Dermaga telah tersedia, namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana pelayanan publik.
,“Pembangunan pelabuhan tidak cukup berhenti pada aspek fisik. Tanpa operasional kapal yang jelas, fungsi pelayanan publik tidak berjalan,” kata Alfian.
Adapun di Pelabuhan Laut Indari, Aliansi mencatat rute kapal dari Desa Indari ke Kota Ternate masih beroperasi, namun rute sebaliknya belum berjalan. Hal ini berdampak pada keterbatasan akses masyarakat Indari terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, dan distribusi barang.
,“Tidak beroperasinya rute balik membuat akses masyarakat Indari menjadi terbatas dan biaya kebutuhan hidup meningkat,” ujarnya.
Aliansi Revolusi Agromaritim menilai persoalan transportasi laut di Obi, Loleo Jaya, dan Indari mencerminkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola transportasi laut oleh pemerintah daerah dan instansi terkait. Melalui pernyataan tersebut, Aliansi mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan untuk menjamin operasional rutin kapal di ketiga pelabuhan serta meminta Dinas Perhubungan melakukan evaluasi terbuka terhadap pengelolaan transportasi laut.
,“Transportasi laut merupakan bagian dari pelayanan publik yang sangat dibutuhkan masyarakat kepulauan dan perlu dikelola secara berkelanjutan,” pungkas Alfian.
(Tim Red)






