
Patroli86.com.,, Ada kebanggaan yang lahir ketika dua wilayah yang selama ini dikenal sebagai saudara dekat—Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur—memutuskan untuk melangkah bersama. Bukan untuk bersaing, tetapi untuk saling menguatkan, menyiapkan diri, dan membuka rumah bagi seluruh Indonesia melalui Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.
Komitmen itu ditegaskan pada 28 Januari 2026, ketika Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menandatangani Surat Pernyataan Kesiapan menjadi tuan rumah bersama. Sebuah langkah yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi sarat makna psikologis: bahwa dua provinsi yang berada di barat dan timur Nusa Tenggara ini siap berdiri sejajar, saling melengkapi, dan memikul tanggung jawab besar secara bersama-sama.
PON bukan sekadar ajang olahraga. Ia adalah peristiwa kebangsaan yang menghadirkan ribuan atlet, ofisial, dan tamu dari seluruh penjuru negeri. Menjadi tuan rumah berarti menyiapkan infrastruktur, layanan, keamanan, transportasi, dan keramahan masyarakat. Lebih dari itu, ia adalah tentang kesiapan mental: kesiapan untuk menerima, melayani, dan menunjukkan wajah terbaik daerah.
Di NTB, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal langsung menindaklanjuti peneguhan komitmen tersebut dengan mengajak seluruh jajaran memetakan langkah konkret: dari kesiapan venue, penguatan infrastruktur, hingga koordinasi lintas sektor. Optimisme tumbuh, seiring komunikasi yang telah dibangun dengan pemerintah pusat agar penetapan resmi dapat segera ditetapkan.
Bagi NTB dan NTT, PON XXII 2028 adalah ruang untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan rasa percaya diri, dan memperlihatkan bahwa dua Nusa ini bukan hanya kaya akan alam dan budaya, tetapi juga siap menjadi tuan rumah yang hangat, tertib, dan profesional.
Dari barat hingga timur, satu tekad sedang dirajut: menyambut Indonesia dengan tangan terbuka, melalui olahraga, persahabatan, dan semangat kebersamaan.








