
Banjarmasin, patroli86.com, 15/5/2026 — Keluhan panjang para sopir angkutan dan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak, khususnya solar, kembali memuncak. Sejumlah perwakilan sopir dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan datang dengan harapan bisa menyampaikan langsung aspirasi mereka kepada pemerintah daerah.
Mereka datang bukan tanpa pengorbanan. Ada yang menempuh perjalanan jauh dari Hulu Sungai, Barabai, Kandangan, hingga Tanjung. Mereka meninggalkan pekerjaan, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan sisa bahan bakar yang mereka miliki demi satu tujuan: ingin didengar.
Namun harapan itu berubah menjadi kekecewaan.
Hingga aspirasi disampaikan, masyarakat mengaku belum mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan pimpinan daerah yang mereka harapkan hadir di tengah persoalan ini. Tidak ada dialog terbuka yang benar-benar menjawab keresahan mereka mengenai kelangkaan solar yang selama ini menghambat pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Padahal, bagi para sopir, solar bukan sekadar kebutuhan kendaraan. Solar adalah sumber penghidupan.
Sejak pagi buta ketika jalanan masih gelap, deru mesin truk sudah terdengar di berbagai wilayah Kalimantan Selatan. Mereka bekerja bukan untuk mengejar kemewahan, melainkan untuk mempertahankan kehidupan keluarga di rumah. Ketika solar langka, distribusi terganggu. Ketika distribusi tersendat, pasar ikut terdampak dan roda ekonomi masyarakat melemah.
Para sopir menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan aksi mencari sensasi, apalagi gerakan bayaran. Mereka adalah pekerja lapangan, tulang punggung keluarga, bagian penting dari rantai distribusi kebutuhan masyarakat.
“Kami hanya ingin didengar. Kami datang baik-baik membawa keluhan rakyat kecil,” ungkap salah satu sopir yang hadir.
Masyarakat kini mempertanyakan keberpihakan pemerintah terhadap persoalan yang mereka hadapi setiap hari. Mereka berharap Muhidin bersama jajaran pemerintah provinsi, termasuk Hasnuryadi Sulaiman, dapat membuka ruang dialog secara langsung dan memberikan langkah nyata terhadap persoalan distribusi BBM yang terus berulang.
Kritik ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai pengingat bahwa rakyat membutuhkan kehadiran pemimpin di saat kondisi sulit.
Sebab bagi masyarakat kecil, didengar saja sudah menjadi harapan besar.
Hari ini rakyat masih menunggu jawaban. Rakyat masih menunggu keberpihakan. Dan rakyat masih bertanya: di manakah pemimpin ketika suara mereka membutuhkan perhatian….???? (Tim/red)







