
Halmahera Selatan//Patroli86.com// — Komitmen menjaga lingkungan dan warisan budaya terus ditegaskan oleh pihak perusahaan tambang di kawasan Obi. Dalam penjelasannya, pihak Harita Nickel menyampaikan bahwa aktivitas operasional perusahaan tetap memperhatikan aspek keselamatan, lingkungan, sosial kemasyarakatan, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kawasi, Reinhard Siar, mengapresiasi langkah perusahaan yang dinilai telah membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat langsung kawasan operasional perusahaan, termasuk lokasi-lokasi budaya bersejarah yang berada di sekitar area industri.
Menurut Reinhard, kondisi alam di Desa Kawasi, khususnya di sekitar Danau Karo, masih tetap terjaga dan tidak mengalami kerusakan sebagaimana isu yang berkembang di luar.
“Kita menyaksikan langsung bahwa kondisi Danau Karo masih terjaga, airnya jernih dan kawasan di sekitarnya masih hijau. Bahkan danau tersebut juga memberi manfaat bagi daerah melalui pajak air permukaan yang dibayarkan perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto, menjelaskan bahwa perusahaan memahami pentingnya menjaga kawasan bernilai sejarah dan budaya di Pulau Obi. Menurutnya, area seperti Danau Karo dan Benteng De Brill bukan hanya memiliki fungsi lingkungan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan kedekatan emosional bagi masyarakat setempat.
“Kami menyadari bahwa menjaga area seperti Danau Karo dan Benteng De Brill adalah tanggung jawab bersama. Karena itu perusahaan menetapkan batas dan perimeter khusus untuk melindungi area tersebut dari aktivitas operasional pertambangan maupun smelter agar kelestariannya tetap terjaga,” jelas Dian.
Ia juga menambahkan bahwa perusahaan menerapkan prosedur Chance Find Procedure, yakni penghentian sementara aktivitas kerja apabila ditemukan indikasi benda atau situs yang memiliki nilai sejarah maupun budaya. Selanjutnya dilakukan pengamanan area dan koordinasi dengan pihak terkait sesuai prosedur perusahaan.
Pernyataan tersebut mendapat tanggapan positif dari masyarakat Desa Kawasi. Tokoh masyarakat setempat, Jofi, mengatakan bahwa menjaga situs sejarah bukan hanya soal melindungi lokasi fisik, tetapi juga menjaga cerita dan identitas budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Semoga hubungan baik dan kepedulian terhadap warisan budaya Pulau Obi terus dijaga bersama,” tutupnya.
(Tim Red)








