
Halmahera Selatan//Patroli86.com// — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kabupaten Halmahera Selatan melibatkan berbagai elemen, mulai dari pemerintah kecamatan dan desa, masyarakat, aparat keamanan, hingga dukungan perusahaan. Di Kecamatan Obi, kebakaran dilaporkan terjadi di lima desa, yakni Baru, Akegula, Buton, Laiwui, dan Jikotamo. Sementara itu, kebakaran juga terjadi di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, serta Desa Kawasi, Kecamatan Obi.
Camat Obi, Ali Lajarahia, mengatakan upaya penanganan karhutla di wilayahnya dilakukan melalui koordinasi lintas sektor bersama sejumlah pihak, termasuk perusahaan. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung proses pemadaman di lokasi terdampak.
“Setelah dilakukan rapat koordinasi lintas sektor dan perusahaan, proses penanganan langsung dilakukan. Memang ada beberapa kendala dalam proses penanganan, yakni ketersediaan air untuk pemadaman dan lokasi kebakaran yang berada di kawasan hutan dengan medan terjal sehingga petugas mengalami kesulitan,” kata Ali.
Menurut Ali, keterbatasan sumber air dan kondisi medan yang terjal menjadi tantangan bagi petugas dalam menjangkau titik-titik kebakaran. Selain itu, kabut asap akibat karhutla telah menyelimuti sejumlah desa di Kecamatan Obi sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan asap.
Ali menjelaskan, upaya penanganan bersama telah berlangsung selama kurang lebih tujuh hari. Dalam proses tersebut, Harita Nickel turut memberikan dukungan operasional berupa dua drum bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan pengangkut air, serta konsumsi bagi petugas selama lima hari terakhir.
Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) Karhutla Kecamatan Obi, Kapten Inf. Amin Tomia, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi tiga titik awal api, yakni satu titik di wilayah Desa Baru dan dua titik di Desa Buton.
Meski demikian, penyebab kebakaran di lokasi tersebut belum diketahui secara pasti karena titik-titik api berada di kawasan hutan.
Amin menegaskan bahwa koordinasi antarunsur terus dilakukan untuk mendukung proses pemadaman. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, baik di sekitar tempat tinggal maupun saat beraktivitas di kebun.
Di wilayah lain, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, pada 17 Oktober 2026. Penanganan di lokasi tersebut melibatkan Pemerintah Desa Soligi, masyarakat, dan Harita Nickel yang bersama-sama melakukan upaya pemadaman.
Sebelumnya, karhutla juga terjadi di Desa Kawasi, Kecamatan Obi. Menyikapi kejadian tersebut, Harita Nickel mengerahkan Crisis Management Team (CMT) untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat dalam menangani kebakaran yang kembali muncul di sekitar tempat pembuangan sampah.
Keterlibatan berbagai elemen dalam penanganan karhutla di Kecamatan Obi, Desa Soligi, dan Desa Kawasi menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk mengendalikan kebakaran. Selain memperkuat koordinasi dan dukungan operasional, pencegahan melalui peningkatan kewaspadaan masyarakat juga diperlukan agar kebakaran tidak meluas dan dampak kabut asap terhadap kesehatan warga dapat diminimalkan.
(Tim Red)







