
Oleh : Komarudin Hidayat
(Ketua Dewan Pers)
Di luar perdebatan siapa dalang penyadapan, apa materi yang disadap dan seberapa heboh jagat publik andaikan rekaman penyadapan itu buka, satu hal yang pasti: tembok kerahasiaan istana telah jebol akibat ceroboh dan rapuhnya sistem keamanan istana.
Pemerintah ini ibarat rumah besar, namun sejak dari tembok pagar, jendela dan pintunya sudah jebol. Bahkan sampai kamar privasi presiden pun tak ada lagi firewall yang kokoh.
Dua tahun pemerintahan Prabowo yang belum selesai dengan isue kontroversial sejak dari MBG, Kopdes, kebakaran hutan, nilai rupiah yang anjlog, kabinet gemuk yang tidak produktif sampai dana operasional daerah yang mengalami defisit, kini pemerintah Prabowo diguncang megaskandal penyadaban oleh petinggi polisi.
Ini semua membawa konsekuensi betapa ribetnya pemerintahan Prabowo, sementara usia pemerintahannya dikejar waktu dan dituntut menciptakan “quick win” untuk memenangkan hati rakyat.
Kita tidak tahu persis, drama politik nasional macam apa yang akan muncul akibat dari megaskandal penyadapan ini. Kita hidup di era medsos yang menguasai ruang publik, sementara mindset para politisi kita masih berada di masa lalu. Seakan masyarakat bisa dikendalikan dari atas.
Semua ini membuka kontak pandora bahwa ternyata integritas dan kualitas politisi kita ternyata keropos, sehingga sistim dan budaya politik yang dibangun juga rapuh. (*)








