
Halmahera Selatan // patroli86.com // —
Sengketa lahan antara Keluarga Besar Barmawi dengan PT Intim Kara di Halmahera Selatan semakin panas. Setelah sebelumnya memasang papan peringatan kepemilikan tanah, keluarga Barmawi kini memberikan ultimatum keras: pagar pembatas yang mereka klaim berada di atas lahan milik keluarga akan dibuka paksa pada 1 Oktober jika tidak ada penyelesaian.
Koordinator Keluarga Besar Barmawi menegaskan, area yang saat ini dipakai PT Intim Kara termasuk pelabuhan tempat bersandar LCT (Landing Craft Tank) adalah tanah keluarga mereka. Klaim ini, menurutnya, sah secara hukum berdasarkan Surat Hibah No. 071/BKD/TK/II/MU/VI/1992.
,“Kami sudah terlalu lama menunggu itikad baik. Jika sampai tanggal 1 Oktober tidak ada kejelasan, kami akan buka pagar itu. Kami juga siap datang dengan massa lebih besar untuk memindahkan pagar sesuai batas lahan kami,” tegasnya.
Pihak keluarga menilai pemerintah daerah terkesan lamban dan tidak serius menangani konflik agraria yang sudah lama berlangsung. Mereka meminta pemerintah segera turun tangan sebelum situasi memanas menjadi konflik terbuka.
Di sisi lain, manajemen PT Intim Kara menegaskan kehadiran mereka di lokasi tersebut legal karena berdasarkan kontrak kerja dengan pemerintah.
,“Kami dibayar pemerintah untuk menempati tempat ini sesuai kontrak kerja. Namun jika pagar dibuka atau dipindahkan sepihak, kami keberatan. Pagar itu kami pasang untuk melindungi aset perusahaan,” kata perwakilan manajemen.
Manajemen PT Intim Kara mengaku siap bermusyawarah tetapi menuntut penghormatan terhadap kontrak yang berlaku. Mereka juga meminta pemerintah daerah memediasi agar konflik tidak berujung pada benturan lapangan.
Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan belum memberikan pernyataan resmi terkait sengketa tersebut meski konflik ini telah berlarut-larut. Keluarga Barmawi menilai sikap diam pemerintah memperburuk keadaan.
Ultimatum ini menjadi sinyal serius bahwa jika pemerintah dan pihak perusahaan tidak segera mengambil langkah konkret, potensi benturan fisik di lapangan tak bisa dihindari.
(Tim Red)








