
PATROLI 86.COM ,, Kegiatan penutupan turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ketapang Matius Yudi, Wakil Ketua DAD Kabupaten Ketapang H. Jahilin, unsur Forkopimcam, para kepala perangkat daerah, camat, kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta masyarakat dari berbagai wilayah.
Dalam sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Jubata/Duwata Perimbang Alam Bumi) atas limpahan hasil panen padi. Ia menegaskan bahwa tradisi gawai merupakan warisan budaya masyarakat Dayak yang wajib dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan.
Tradisi ungkapan syukur atas panen padi ini hampir merata di seluruh wilayah Ketapang. Hal ini menunjukkan eratnya hubungan masyarakat Dayak dengan alam serta para leluhur,” ujar Bupati.
Bupati juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Gema yang konsisten menyelenggarakan Gawai Adat Bejujokng hingga memasuki tahun ke-15. Menurutnya, kualitas pelaksanaan gawai dari tahun ke tahun semakin baik dan kini telah setara dengan pelaksanaan gawai di tingkat kabupaten.
Pada kesempatan tersebut, Bupati menekankan pentingnya menjaga jati diri dan identitas budaya di tengah arus modernisasi. Ia mengajak masyarakat untuk terus memperkuat kedaulatan ekonomi, budaya, dan politik, sekaligus mengelola kekayaan alam secara bijak demi kesejahteraan bersama.
Sebagai wujud komitmen pelestarian budaya, Bupati mengungkapkan rencana pembangunan miniatur rumah betang atau rumah adat di Desa Gema. Ia meminta agar penyusunan Detail Engineering Design (DED) dapat dipersiapkan tahun ini, sehingga pembangunan dapat dimulai pada tahun mendatang secara gotong royong oleh seluruh desa di Kecamatan Simpang Dua.
Mengakhiri sambutannya, Bupati berharap Gawai Adat Bejujokng dapat terus dilestarikan sebagai kekuatan budaya sekaligus identitas masyarakat Dayak di Kabupaten Ketapang.(SKD) (TH)






