
Patroli86.com – Bunda Literasi Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, menegaskan bahwa tantangan literasi generasi muda saat ini bukan lagi sekadar rendahnya minat membaca, melainkan kemampuan memahami informasi secara kritis di tengah derasnya arus media sosial, teknologi digital, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Anugerah Duta Bahasa Provinsi NTB Tahun 2026 yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi NTB di Hotel Lombok Raya, Mataram, Rabu (20/5).
Dalam sambutannya, Bunda Sinta menyinggung capaian NTB yang saat ini berada di posisi kedua nasional dalam tingkat gemar membaca. Namun menurutnya, tingginya minat baca tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kualitas pemahaman literasi masyarakat.
“Kita sudah banyak mendengar bahwa NTB memiliki tingkat gemar membaca yang baik. Namun yang menjadi persoalan adalah apa yang dibaca dan bagaimana pemahamannya. Itu yang masih menjadi PR kita,” ujarnya.
Menurut Bunda Sinta, perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga melahirkan kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat tanpa memahami konteks secara utuh.
“Banyak anak-anak dan generasi kita yang merasa cukup hanya dengan satu kali klik, satu kali melihat, satu halaman saja. Padahal literasi tidak sekadar membaca apa yang ada di layar,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat semakin rentan terhadap hoaks dan arus opini di media sosial karena banyak orang terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa memahami isi informasi secara menyeluruh.
“Kadang mereka tidak membaca isi artikelnya, hanya membaca judulnya saja. Akhirnya sangat mudah termakan hoaks,” ujarnya.
Bunda Sinta mengatakan setiap generasi memiliki tantangan literasi yang berbeda. Jika pada masa lalu akses terhadap buku dan bahan bacaan masih terbatas, generasi saat ini justru menghadapi banjir informasi digital yang bergerak sangat cepat.
Ia pun mengenang masa remajanya ketika banyak anak muda rela berlama-lama membaca di toko buku karena tidak mampu membeli buku sendiri.
“Dulu kami sering melihat anak-anak nongkrong di Gramedia, duduk di lorong-lorong untuk membaca karena tidak sanggup membeli buku. Sekarang akses informasi jauh lebih mudah karena perkembangan teknologi,” tuturnya.
Menurutnya, membaca melalui media digital maupun buku fisik sama-sama baik selama dilakukan dengan cara yang benar, yakni memahami dan mendalami informasi yang dibaca, bukan sekadar melihat secara sepintas.
Dalam kesempatan tersebut, Bunda Sinta juga menyoroti penggunaan AI yang kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda. Menurutnya, penggunaan AI bukanlah hal yang salah, tetapi generasi muda tidak boleh hanya bergantung pada jawaban instan tanpa berupaya memahami informasi secara lebih mendalam.
“Jangan hanya meminta AI membuat sesuatu lalu selesai. Kita harus tetap mencari lebih dalam, memahami konteks, dan menggali latar belakangnya,” tegasnya.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk “gagap literasi”, yakni ketika seseorang cepat menerima informasi, tetapi tidak terbiasa memahami konteks dan memeriksa kebenarannya secara mendalam.
Selain itu, Bunda Sinta juga mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak budaya FOMO (Fear of Missing Out) dalam menyikapi informasi di media sosial. Menurutnya, banyak orang terburu-buru ikut berkomentar hanya karena sebuah isu sedang viral, padahal belum memahami persoalan sebenarnya.
Karena itu, ia berharap para Duta Bahasa tidak hanya menjadi simbol atau penerima selempang semata, tetapi mampu menjadi penggerak budaya literasi kritis di tengah masyarakat.
“Ini bukan sekadar selempang atau penghargaan, tetapi ada PR besar di dunia literasi yang harus dikerjakan bersama,” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, menyampaikan bahwa para finalis Duta Bahasa Tahun 2026 telah melalui tahapan seleksi dan karantina secara ketat dengan pembekalan di bidang kebahasaan dan kesastraan.
Menurutnya, para finalis mendapatkan penguatan dari para narasumber, praktisi, serta alumni Duta Bahasa sebagai bagian dari persiapan menuju ajang nasional.
“Kegiatan ini dilaksanakan dengan tahapan yang sangat ketat sehingga para pemenang yang terpilih nantinya benar-benar merupakan lulusan terbaik Duta Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2026,” ujarnya.
Ia menambahkan, para juara nantinya akan mewakili NTB pada ajang Duta Bahasa tingkat nasional di Jakarta dan diharapkan mampu membawa nama baik daerah di tingkat nasional.
Anugerah Duta Bahasa NTB 2026 diharapkan tidak hanya melahirkan generasi muda yang aktif di ruang digital, tetapi juga generasi yang kritis, mampu memahami konteks informasi, serta tidak mudah terbawa arus di tengah banjir informasi media sosial dan perkembangan AI.







