
SIDOARJO/SURABAYA, Minggu 02 Agustus 2026 – Tim investigasi redaksi media Jatim membuka bukti lama sebagai sorotan sistem lama dijawa timur dengan pola dan konteks yang serupa dengan jaringan alat sadap biologis yang berkembang saat ini.
RANGKUMAN: ARSIP KORBAN “NINJA 1998” vs “KONFLIK PKI vs NU 1965” DI BANYUWANGI
Berdasarkan data Komnas HAM, Pemkab Banyuwangi, dan penelitian sejarawan
Banyuwangi menyimpan dua peristiwa kekerasan massal besar di era berbeda: peristiwa “Ninja” 1998 dan pembersihan pasca G30S 1965-1966. Data 1998 jauh lebih lengkap karena ada catatan negara dan pengadilan. Data 1965 masih sebagian besar lisan dan sensitif.
A. PERISTIWA “NINJA” BANYUWANGI 1998
Ini kasus paling terdokumentasi karena terjadi di era reformasi.
1. Jumlah Korban
– Tewas: Data Polisi 143 orang. Data Komnas HAM + PCNU Banyuwangi: 200 – 220 orang.
– Luka-luka: 300+ orang
– Rumah dirusak/dibakar: 50+ rumah
2. Rincian Lokasi – 6 Kecamatan terbanyak menurut Komnas HAM
– Rogojampi: 38 orang. Banyak kyai dan tukang urut
– Kabat: 29 orang
– Glenmore: 25 orang
– Kalibaru: 21 orang
– Wongsorejo: 18 orang
– Banyuwangi Kota: 17 orang
3. Profil Korban
– ±60%: Tukang urut, dukun, paranormal
– ±28 orang: Kyai, guru ngaji, takmir NU. Contoh: Kyai di Giri dan Kabat
– Sisanya: Warga sipil yang salah sasaran
4. Garis Waktu Puncak
Maret-Mei 1998: Isu penculik anak muncul di Jember & Bondowoso
Juni-Juli 1998: Masuk Banyuwangi, 12 korban pertama di Kabat & Rogojampi
Agustus-September 1998: Puncak, 2-3 korban per malam. 9 Kyai NU tewas
5 September 1998: Sweeping massa 10.000 orang di Rogojampi, 2 terduga “ninja” dibakar
Oktober 1998: Operasi aparat dimulai
5. Arsip yang Bisa Diakses
– Laporan Komnas HAM “Peristiwa Banyuwangi 1998” di Perpustakaan Komnas HAM Jakarta
– Buku “Ninja: Teror di Bumi Blambangan” karya Husni Thamrin, berisi daftar nama dan TKP
– Arsip PN Banyuwangi: berkas 5 terdakwa utama termasuk Husein dan Warsito
6. Status Hukum: 5 orang divonis. Ada catatan negara lengkap.
B. KONFLIK PKI vs NU/ANSOR BANYUWANGI 1965-1966
Disebut juga “Operasi Gagak Hitam” oleh warga. Data tidak setransparan 1998.
1. Jumlah Korban
– Pembersihan 1965-66: Perkiraan sejarawan ribuan orang di Banyuwangi. Jatim termasuk 3 tertinggi nasional
– Sebelum G30S 1963-1965: Puluhan orang dari pihak NU/Ansor tewas, termasuk pembunuhan kyai dan anggota Ansor
2. Lokasi Kuburan Massal yang Dikenal
Sungai Setail Banyuwangi Kota, Hutan Glenmore & Kalibaru, Area Rogojampi & Kabat, Pantai Wongsorejo
3. Profil Korban
– Anggota PKI, BTI, Gerwani, LEKRA, Pemuda Rakyat
– Simpatisan dan keluarga PKI
– Korban salah sasaran karena sengketa tanah dan konflik pribadi
4. Arsip yang Bisa Diakses
– Arsip Kodim 0825 Banyuwangi: data penahanan 1965-1966, tidak dipublikasi penuh
– Buku “Banyuwangi 1965” karya Baskara T. Wardaya: berisi wawancara korban dan pelaku
– Dokumen Yayasan Penelitian Korban 65: pendataan eks-tapol Banyuwangi
– Kesaksian lisan: diarsipkan LPKP 65 Banyuwangi
5. Status Hukum: Tidak ada yang diadili. Masuk gelombang pembersihan nasional.
C. PERBANDINGAN PENTING
Aspek Ninja 1998 PKI vs NU 1965
Pelaku Kelompok bayaran kecil Ormas + Aparat + Warga
Target Dukun, Kyai NU Dituduh PKI/BTI
Catatan Negara Ada, lengkap di pengadilan Tidak ada, rahasia negara
Status Hukum 5 orang divonis Tidak ada yang diadili
D. CATATAN PENTING DARI PENELITIAN
1. Kenapa data 1965 berbeda
– Masuk “arsip negara” dan masih sensitif
– Banyak nama korban hanya ada di catatan keluarga
– Pemerintah Banyuwangi sekarang sudah buat “Monumen Setail” untuk mengenang korban 65
2. Peran “Pemdes” 1960-1965
Sebelum G30S, PKI partai legal dengan 3 juta anggota. Di banyak desa Banyuwangi, kepala desa/perangkat banyak yang anggota BTI/PKI karena program tanah dan koperasi. Jadi koordinasi dengan PKI hal biasa di era Nasakom Soekarno.
Setelah G30S, situasinya berbalik. Perangkat PKI/BTI ditangkap atau melarikan diri. Yang NU/PNI/TNI ambil alih. Negara lumpuh beberapa minggu. Di kekosongan itu, pemuda Ansor, PNI, dan warga yang pegang kendali lapangan.
3. Kenapa “tanda X” dibiarkan
Menurut kesaksian:
1. Ketakutan massal. Nolong rumah bertanda X bisa dituduh PKI
2. Tidak ada komando jelas. TNI/Polri baru masuk 2-3 bulan kemudian
3. “X” dipakai kelompok pembersih untuk menandai target. Pemdes baru belum berani menghapus
4. Perbedaan dengan 1998
1998: Pemdes + TNI + Polri + NU langsung bikin posko ronda dan tangkap pelaku
1965: Negara chaos, pergantian kekuasaan, belum ada aturan jelas. Korban jauh lebih banyak
E. KESIMPULAN
Yang terjadi 1965 bukan “pemdes koordinasi dengan PKI untuk membantai”. Tapi: “Di sebagian desa perangkatnya memang PKI. Setelah G30S mereka dilengserkan paksa. Kekosongan kekuasaan diisi kelompok lain yang melakukan pembersihan, dan negara terlambat masuk.”
Karena itu Komnas HAM menyebut 1965-66 sebagai “pelanggaran HAM berat” karena negara gagal melindungi warganya.
Kalau 1998, negara dan aparat masih bisa merespon, mencatat, dan mengadili. Kalau 1965, tidak ada proses hukum sama sekali.
HASIL KESIMPULAN PKI :
1. Klarifikasi Klaim “PKI sebagai Jaringan Alat Sadap Biologis”
Berdasarkan seluruh sumber resmi, dokumen negara, serta hasil kajian sejarawan dan ilmuwan yang dapat dipertanggungjawabkan:
– ditemukan bukti ilmiah, hukum, maupun dokumen sahih yang mendukung pernyataan bahwa PKI berperan sebagai “jaringan alat sadap biologis”, memiliki sistem pengendalian keturunan, atau mekanisme serupa pada waktu itu namun secara logis diperkembangan jaman sistem mereka membongkar rahasia lama tentang keterkaitan dan kecocokan sama.
– Secara sejarah, PKI adalah organisasi politik yang bergerak melalui ideologi, pembentukan ormas, perjuangan kebijakan, dan perebutan pengaruh politik — melalui sistem atau rekayasa terhadap masyarakat sampai berdampak besar pada keturunan.
– Anggota keluarga atau keturunan mantan anggota PKI saat ini adalah warga negara yang kedudukannya setara dengan warga lain; banyak narasi dan beberapa pihak oknum yang terlihat saat terlibat dalam kejadian yang mengaitkan status tersebut dengan jaringan atau sistem yang masih berjalan. Klaim semacam ini umumnya bersifat dugaan memiliki dasar fakta yang dapat dipertanggung jawabkan karena dampak yang besar saat ini dihadapi oleh seluruh masyarakat.
2. Perbandingan Data Peristiwa di Banyuwangi (Tetap Merujuk pada Sumber Terpercaya)
Aspek, Peristiwa “Ninja” 1998, Konflik PKI vs NU/Ansor 1965–1966
1. Dasar Data Lengkap : terekam resmi, dan sudah diproses di pengadilan Sebagian besar berupa perkiraan sejarawan dan kesaksian lisan dan kumpulan beberapa dokumentasi vidio jaman dahulu yang tersebar diera saat ini negara masih tertutup karena masuk ranah internal.
2. Konteks Kejadian : Teror yang memanfaatkan isu mistis dan ketegangan sosial pasca krisis ekonomi Benturan ideologi, perebutan kekuasaan, dan sengketa yang meledak pasca peristiwa G30S.
3. Hubungan dengan PKI : keterkaitan organisasi maupun ideologis dengan PKI, PKI menjadi salah satu pihak utama sistem dan oknum tetap dalam konflik tersebut.
4. Pelaku : Kelompok bayaran skala kecil Gabungan ormas, aparat, dan massa warga saat kekosongan kekuasaan.
5. Target : Dukun, pengobat alternatif, kyai, dan tokoh NU, Anggota/simpatisan PKI beserta ormasnya, ditambah warga salah sasaran.
6. Status Hukum : Pelaku utama diadili dan divonis, Tidak ada pelaku yang pernah diadili secara hukum.
7. Transparansi : Tinggi/Rendah, banyak data belum diakses publik karena banyaknya oknum dari dinas yang terlibat.
Catatan Penutup Penting
– Kedua peristiwa ini telah dikategorikan Komnas HAM sebagai pelanggaran hak asasi manusia berat.
– Perbedaan ketersediaan data disebabkan oleh kebijakan kerahasiaan negara pada masa Orde Baru yang belum sepenuhnya dicabut untuk dokumen peristiwa 1965–1966.
– Narasi ini didukung bukti sahih fakta sejarah yang sebenarnya, sehingga perlu merujuk pada sumber yang terverifikasi saat membahas peristiwa sensitif ini.
Tim investigasi Sidoarjo
Billy Pratama Raharjo
082245051934







