
Polres Bangli, – Potensi kebakaran hutan dan lahan selalu meningkat saat musim kemarau tiba. Menyikapi hal itu, Polres Bangli menggelar Rapat Koordinasi Pencegahan Karhutla bersama unsur terkait, Kamis 27 Agustus 2026 di Rupatama Polres Bangli.
Rakor yang berlangsung dari pukul 09.20 hingga 11.15 WITA ini dipimpin Waka Polres Bangli Kompol I Gede Sudyatmaja, S.H., M.H. Hadir dalam kegiatan tersebut para PJU Polres Bangli, para Kapolsek, serta perwakilan dari BKSDA, UPTD KPH Bali Timur, DLH, BPBD & Damkar, dan Dinas PUPR Kabupaten Bangli. Total 20 orang hadir untuk menyamakan langkah.
Membuka rapat, Kompol Sudyatmaja menyampaikan terima kasih kepada seluruh undangan yang sudah meluangkan waktu. Ia menekankan bahwa wilayah Bangli memiliki bentang hutan dan lahan yang luas. Kondisi ini membuat Kabupaten Bangli rawan Karhutla setiap kali kemarau datang.
” Melalui rakor ini kita ingin mencari solusi terbaik. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ke depan Polres Bangli juga berencana menggelar apel siaga bersama dan simulasi penanggulangan Karhutla. Selain itu akan dibentuk Posko Tanggap Darurat agar penanganan bisa lebih cepat,” Jelasnya.
Dalam sesi pemaparan, setiap instansi menyampaikan kesiapannya.
DLH Kabupaten Bangli sudah turun ke sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi. Pesannya sederhana: jangan membakar sampah sembarangan. Selain memicu kebakaran, asapnya juga menurunkan kualitas oksigen yang kita hirup sehari-hari.
BPBD dan Damkar Kabupaten Bangli menyatakan personel dan armada pemadam sudah siaga. Jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran, tim akan bergerak cepat dan berkoordinasi dengan pihak lain di lapangan.
Sementara itu UPTD KPH Bali Timur fokus pada pencegahan. Penyuluhan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan terus digencarkan. Prinsipnya, mencegah jauh lebih baik daripada memadamkan setelah kejadian.
Dari sisi konservasi, BKSDA melalui KPHK Kintamani telah meningkatkan patroli terpadu di titik-titik rawan. Edukasi juga diberikan kepada warga sekitar hutan dan wisatawan. Sebab, selain faktor alam, Karhutla juga banyak dipicu oleh aktivitas manusia yang lalai menggunakan api.
Diskusi berlangsung terbuka. Semua pihak sepakat bahwa penanganan Karhutla harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan. Tidak ada satupun instansi yang bisa bekerja sendiri.
Rakor ini menjadi langkah awal membangun komitmen bersama. Tujuannya satu: menjaga hutan Bangli tetap hijau, dan memastikan masyarakat bisa melewati musim kemarau 2026 dengan aman.








