
Oleh: Bung Harmain Rusli
Patroli86com.com
Di Desa Kubung, Halmahera Selatan, sebuah potret luka negeri ini tergambar jelas di atas batang-batang kelapa yang menjelma jembatan darurat. Seorang petani tua, berbalut peluh dan debu, melangkah perlahan. Di pundaknya, tergantung sekarung kopra—buah dari kerja keras tanpa suara yang dimulai sejak fajar. Tapi yang lebih berat dari karung di pundaknya, adalah beban harapan yang ia pikul: harapan bahwa suatu hari, negara akan hadir.
Batang-batang kelapa yang menyusun jembatan itu licin, lapuk, dan goyah. Di bawahnya, sungai mengalir tenang tapi siap menelan siapa pun yang terpeleset. Namun, petani itu tetap melangkah, karena tak ada jalan lain. Di ujung jembatan itu, ada pasar, ada anak-anak yang butuh sekolah, ada dapur yang harus tetap mengepul. Dan di balik semua itu, ada negara yang belum juga menengoknya.
Ini bukan kisah fiksi, bukan adegan sinetron murahan. Ini adalah potret nyata yang terjadi hari ini, di bawah langit Halmahera Selatan yang sama dengan langit yang menyinari ruang-ruang rapat pemerintahan Bassam-Helmi.
Pembangunan yang Gagap Hati
Sering kita dengar pidato tentang kemajuan, dibumbui angka-angka capaian dan grafik pertumbuhan ekonomi. Laporan keberhasilan diumumkan, baliho peresmian proyek berdiri megah. Tapi, bagaimana mungkin pembangunan diklaim berhasil jika jembatan di Kubung—urat nadi ekonomi warga—masih terbuat dari batang kelapa?
Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi untuk menggugah: apakah pembangunan di Halmahera Selatan hanya sebatas kota dan pinggiran kekuasaan? Lalu, bagaimana dengan Kubung? Apakah suara mereka terlalu lirih untuk sampai ke telinga kekuasaan?
Setiap hari, warga Kubung mempertaruhkan nyawa hanya untuk menjual hasil panen mereka. Mereka tak menuntut gedung bertingkat atau jalan tol. Mereka hanya ingin jembatan yang kokoh, agar mereka bisa melintas dengan aman, agar anak-anak mereka bisa sekolah tanpa rasa takut, agar hidup bisa dilanjutkan tanpa rasa waswas.
Jembatan: Lebih dari Sekadar Kayu dan Paku
Jembatan adalah lebih dari sekadar infrastruktur. Ia adalah simbol keadilan, penghubung antara desa dan kota, antara rakyat dan pemerintah. Ketika jembatan dibiarkan rapuh, maka yang rapuh bukan hanya struktur kayunya, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap negara.
Masyarakat Kubung tak menunggu janji. Mereka membangun jembatan dari batang kelapa sendiri, dengan tangan dan tenaga mereka sendiri. Tapi sampai kapan mereka harus memikul beban negara yang absen?
Mereka tidak butuh pidato, mereka butuh tindakan. Sebab kelelahan mereka bukan hanya fisik, tetapi batin. Bayangkan menjadi orang tua yang harus berkata kepada anaknya, “Berhati-hatilah menyeberang, karena jembatannya bisa runtuh kapan saja.”
Bassam–Helmi: Dengarlah Jeritan yang Sunyi Ini
Pemerintahan Bassam–Helmi tentu saja telah melakukan banyak hal. Tapi pembangunan yang baik adalah pembangunan yang merata. Dan pembangunan yang adil adalah pembangunan yang menyentuh hingga ke sudut terdalam, bukan hanya yang terlihat oleh kamera.
Kepemimpinan sejati diuji bukan di ruang ber-AC, melainkan di medan yang penuh lumpur, di bawah terik matahari, di tempat di mana rakyat menggantungkan harapannya. Dan hari ini, Desa Kubung menaruh harapannya kepada kalian.
Datanglah ke jembatan itu. Lihatlah dengan mata sendiri bagaimana anak-anak sekolah meniti batang kelapa untuk menyeberang. Lihat bagaimana para ibu memikul hasil panen sambil menggendong bayi. Dengarkan detak jantung mereka yang selalu berdoa agar jembatan itu tak roboh hari ini.
Kopra: Harta yang Tak Dianggap
Kopra bukan sekadar komoditas. Ia adalah nafas ekonomi desa. Tapi sampai hari ini, para petani kopra belum mendapatkan keadilan yang layak. Harga tak stabil, tengkulak berkuasa, dan jalan serta jembatan hancur. Ini adalah lingkaran setan yang membuat rakyat tetap miskin, meski bekerja dari pagi hingga malam.
Jika pembangunan serius ingin mengangkat kesejahteraan, maka Halmahera Selatan harus memprioritaskan wilayah-wilayah seperti Kubung. Jembatan bukan sekadar akses fisik, tetapi fondasi kemanusiaan. Bila ia rusak, maka rusak pula cita-cita keadilan sosial.
Sebelum Ada Nyawa yang Melayang
Haruskah kita menunggu berita duka? Haruskah seorang anak tergelincir dan tenggelam baru pembangunan dimulai? Bangsa yang beradab mencegah luka, bukan menangisi setelah semuanya terlambat.
Petani-petani di Kubung tak mengemis. Mereka hanya meminta didengar. Mereka tidak minta dibantu setiap saat, mereka hanya ingin jalan dan jembatan yang layak, agar bisa hidup mandiri, agar bisa memberi makan keluarganya tanpa takut esok hari.
Akhir Kata: Jangan Biarkan Rakyat Jalan Sendiri
Pemerintahan Bassam–Helmi masih punya waktu. Masih ada kesempatan untuk membalikkan ketimpangan ini. Jangan biarkan kisah jembatan batang kelapa ini menjadi warisan yang disesalkan. Jadilah pemimpin yang dikenang karena keberanian menyentuh yang terlupakan.
Masyarakat Halmahera Selatan sedang menanti, bukan dalam kemarahan, tapi dalam harapan. Harapan yang kini berdiri di atas jembatan rapuh. Sebelum semuanya ambruk, mari kokohkan kembali pijakan rakyat.
Karena dari jembatan kecil itulah, cahaya besar perubahan bisa benar-benar dimulai.
(Sulfi/patroli86.com)








