
Sumsel patroli 86.com Demo besar-besaran di Pati bukan sekadar kerumunan massa marah. Ia adalah tanda peringatan keras bahwa rakyat sudah muak dengan kebijakan yang hanya menguntungkan pemerintah, tapi mencekik masyarakat. Rencana kenaikan pajak hingga 250% di Pati menjadi pemicu, tapi sumber kemarahannya jauh lebih dalam: hilangnya rasa percaya pada pemimpin daerah.
Bupati dan DPRD seolah lupa bahwa jabatan bukanlah hak istimewa untuk mengatur seenaknya, melainkan amanah yang harus dijalankan demi kesejahteraan rakyat. Ketika suara warga tak lagi terdengar di ruang-ruang rapat, jangan heran jika suara itu menggema di jalanan dengan megafon dan spanduk.
Pati hari ini adalah cermin. Dan cermin itu memantulkan wajah pemerintah daerah yang arogan, lamban, dan abai. Sayangnya, banyak kabupaten/kota di Indonesia memiliki potensi yang sama untuk memicu kemarahan warganya. Bedanya, di Pati rakyat sudah bertindak, sementara di daerah lain rakyat mungkin masih menahan diri—untuk sementara.
Kepada semua kepala daerah dan anggota DPRD di seluruh Indonesia: dengarlah. Jangan tunggu rakyat kehilangan kesabaran. Jangan tunggu jalan-jalan dipenuhi massa, karena ketika itu terjadi, Anda bukan lagi pemimpin, melainkan target kemarahan.
Pati telah memberi pelajaran mahal—bagi yang mau belajar.
(Awaludin)









