
Oleh: Safri Nyong
Patroli86.com ,, Ketika senja tiba, harapan tumbuh perlahan di balik langit jingga yang mulai renta. Di antara bayang dan cahaya, seorang wanita pemandu lagu berdiri menatap sisa hari yang menggantung di ujung sore. Dalam hatinya, ia ingin percaya bahwa malam akan membawa ketenangan , bahwa di balik denting gelas dan tawa yang semu, masih tersisa ruang kecil untuk kebahagiaan yang tulus.
Namun, fajar sering kali datang terlalu cepat. Saat mentari mulai menyongsong cakrawala, kenyataan pun menampakkan diri. Harapan yang semalam bersemi perlahan sirna, seperti kabut yang terhapus oleh sinar pagi. Ia kembali menjadi bayangan dari dirinya sendiri , penghibur yang dipaksa tegar di atas luka yang belum sembuh, perempuan yang menari di atas perih yang tak pernah ia pilih.
Bagi dirinya, malam adalah panggung; dan senyum, perisai. Ia menyanyikan lagu-lagu cinta yang tak lagi ia yakini, menukar getir dengan nada, menukar air mata dengan tawa palsu yang dijual murah di ruang-ruang berasap dan penuh janji hampa.
Namun dalam segala kemalangannya, ada sesuatu yang tak pernah padam: ketabahan. Ia tahu dunia tak selalu berpihak, namun ia memilih tetap berdiri. Ia sadar harapan bisa retak setiap kali fajar menyongsong, tapi ia juga mengerti , tanpa senja, keindahan kehilangan takkan pernah berarti.
Sebab di balik senyum yang tampak rapuh itu, bersemayam jiwa yang masih berjuang. Ia mungkin malang, tapi tidak kalah. Ia mungkin terluka, tapi tidak hilang.
Dan ketika senja kembali datang, ia menatap langit oranye pucat itu , seolah berbisik pada dirinya sendiri:
“Harapan boleh sirna, tapi aku masih di sini, bernyanyi… meski dunia tak pernah benar-benar mendengar.”
(Penulis: Safri Nyong)







