
Jakarta – patroli86.com ,, 10 November 2025 — Panitia Festival Pencak Silat Tradisi Se–Jabodetabek (Piala Menteri Kebudayaan Republik Indonesia) yang digelar oleh Pesilat Tradisi Indonesia Raya (PETIRA) melaksanakan rapat koordinasi akhir di Ruang Rapat Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan (9/11/2025). Pertemuan ini menjadi tahapan penting sebelum festival digelar pada 15–16 November 2025.
Rapat diikuti oleh seluruh unsur panitia dan jajaran pembina, termasuk Ketua Panitia Refly Cahyadi (Tephy Condet), Sekretaris Panitia Narwan Riyadi, Pembina II Syarif Hidayatulloh, serta Letkol AU Adm. Dr. Saparudin Barus, S.T., M.M., selaku Kepala Museum Satria Mandala yang juga menjadi Pembina Tim Perencana Festival.
Dalam rapat tersebut, panitia memfinalisasi sejumlah aspek teknis, mulai dari penataan panggung utama, tata cahaya, logistik, area parkir, hingga kesiapan menyambut tamu kehormatan termasuk Menteri Kebudayaan Republik Indonesia. Letkol Saparudin Barus menegaskan bahwa suksesnya festival bergantung pada soliditas dan kekompakan seluruh elemen penyelenggara.
“Festival ini bukan sekadar ajang unjuk keterampilan bela diri, tetapi momentum meneguhkan jati diri bangsa lewat kebudayaan. Gotong royong dan disiplin kolektif harus menjadi ruh utama penyelenggaraan agar berjalan tertib dan bermartabat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Refly Cahyadi (Tephy Condet) memastikan seluruh bidang telah siap menjalankan tanggung jawab masing-masing.
“Setiap tim bekerja dengan penuh dedikasi. Kami ingin festival ini menjadi ruang yang tidak hanya menampilkan seni bela diri, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai luhur warisan bangsa,” tuturnya.
Syarif Hidayatulloh, selaku Pembina II, menambahkan bahwa festival ini bukan hanya perlombaan, melainkan simbol persatuan antarperguruan Pencak Silat tradisi dari berbagai daerah.
“Melalui Festival Pencak Silat Tradisi, kita mempersatukan berbagai perguruan di bawah satu semangat: Bhinneka Tunggal Ika. Di sini nilai budaya hidup, dan perbedaan justru menjadi kekuatan,” ucapnya.
Sedangkan Narwan Riyadi, Sekretaris Panitia, menegaskan pentingnya koordinasi disiplin dan komunikasi lintas bidang.
“Kegiatan ini lahir dari semangat menjaga warisan leluhur agar tetap relevan di tengah generasi muda. Tanggung jawab kita bukan hanya menggelar acara, tapi memastikan pesan budayanya tersampaikan,” jelasnya.
Festival PETIRA 08 akan berlangsung di halaman utama Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan, selama dua hari penuh. Sebanyak 48 perguruan dan sanggar Pencak Silat tradisi telah memastikan keikutsertaannya, di antaranya: PPS Macan Siliwangi, PPS Garuda Saka, PPS Kilat Buana, PPS Cempaka Putih, Canda Birawa, Pahaman, PPS Gagak Lumayung, Chingkrik Betawi Rusunawa, PPS Satriyo Gheni, Sanggar Si Bajay, Putra Setia Kota Tangerang, PPS Cingkrik Kembang Cagak, PPS Pusaka Waringin Bekasi, PPS Barigin Sakti, Sanggar Ki Djietoe Cawang, PPS Benteng Malang, Dephrok Jagakarsa, Sanggar Teradahan, MAPSA Indonesia, Sanggar Al Hilal, Sanggar Cingkrik Kong Ajud, Sanggar Rukem, PPS Macan Beksi, Langkah Asah Condet, SDI Cililitan 2, PPS Congkok, Padepokan Panglipur Cakra Sejati (Banten), Pondok Pesantren Al-Matiin (Tangsel), PPS Sang Maung Bodas (Sukabumi), Manderaga (Banten), Sanggar Ngedeprok Priok, Lenong Beksi Jelambar Baru, Sanggar Rumah Baba, PPS SGT Sijampang Muda (Rawa Buaya), Be’sih Kembang Dadap, Yudha Putra Buana, PPS Cakra Buana, Beksi Tradisional H. Hasbulloh, Yayasan Medal Suci, Paguron Sinar Cirahab Banten, PS Cingkrik Sumur Batu, Pengsimatoga Jakarta Timur, Seliwa Tapak Gunting, PPS Cakra Mahkota Aksara, Sima Macan Jalan Enam, Beksi Kampung Setu Ciganjur, MIS Asy Syuhada, dan Sinar Pusaka Putra.
Keterlibatan berbagai perguruan tersebut menjadi cerminan nyata kekayaan warisan bela diri Nusantara yang berpadu dalam satu semangat: persaudaraan, pelestarian, dan kebanggaan budaya Indonesia. Selain kompetisi seni bela diri, festival ini juga diisi dengan pertunjukan budaya, pameran sejarah, serta ruang silaturahmi antarpelaku seni tradisi.
Dengan dukungan penuh para pembina dan kolaborasi lintas perguruan, panitia optimistis penyelenggaraan festival tahun ini akan menjadi momentum kebangkitan Pencak Silat tradisional di tengah arus modernisasi.
“Pencak Silat bukan sekadar gerak bela diri, tapi pancaran jiwa bangsa. Melalui festival ini, kita menyalakan kembali nilai-nilai persaudaraan, keberanian, dan keindahan budaya Indonesia,” tutur Refly Cahyadi menutup rapat evaluasi.







