
Patroli86.com – Masa remaja merupakan fase penting untuk belajar, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, anak-anak dan remaja diharapkan tidak terburu-buru memasuki jenjang pernikahan sebelum memiliki kesiapan yang matang, baik secara fisik, mental, maupun ekonomi.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, saat mengunjungi Pondok Pesantren Dhiya Ul Falah di Desa Lendang Nangka Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kamis (2/7).
Kunjungan yang dirangkaikan dengan edukasi pencegahan perkawinan anak itu turut dihadiri Wakil Bupati Lombok Timur Mohammad Edwin Hadiwijaya serta sejumlah kepala Perangkat Daerah dari Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.
Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Bunda Sinta berdialog langsung dengan para santri, pengurus pondok pesantren, serta jajaran pemerintah daerah. Ia mengawali pertemuan dengan mengajak para santri berbincang mengenai cita-cita, kondisi keluarga, hingga harapan mereka setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Menurutnya, kesempatan belajar di lingkungan pesantren merupakan anugerah yang patut disyukuri. Fasilitas pendidikan dan pembinaan yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai bekal menghadapi masa depan.
“Masa muda tidak akan terulang dua kali. Gunakan waktu ini untuk belajar sebanyak mungkin dan mempersiapkan masa depan,” pesannya.
Selain memperdalam ilmu agama, Bunda Sinta mendorong para santri untuk terus mengembangkan minat dan bakat mereka. Ia mengajak para santri agar tidak ragu berdiskusi dengan ustaz maupun ustazah mengenai potensi yang dimiliki, sekaligus mempelajari berbagai keterampilan seperti menulis, membaca, desain grafis, hingga kewirausahaan.
Dalam kesempatan tersebut, Bunda Sinta juga menekankan pentingnya mencegah pernikahan usia dini. Menurutnya, pernikahan bukan solusi atas persoalan ekonomi maupun keterbatasan pendidikan, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang memerlukan kesiapan menyeluruh.
“Kalian masih anak-anak. Gunakan waktu ini untuk menuntut ilmu dan membangun kemampuan diri. Menikahlah ketika benar-benar sudah siap,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para santri agar berani menyampaikan pendapat kepada keluarga apabila mendapat dorongan untuk menikah pada usia yang belum matang. Menurutnya, perempuan memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi apabila menikah dan hamil pada usia terlalu muda.
Selain mengangkat isu perkawinan anak, Bunda Sinta mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sejak remaja. Ia menyoroti perlunya remaja putri rutin mengonsumsi tablet tambah darah yang telah disediakan pemerintah sebagai langkah pencegahan anemia.
Menurutnya, kebiasaan menjaga kesehatan sejak dini akan menjadi investasi penting ketika memasuki usia dewasa dan berkeluarga.
Bunda Sinta juga mengajak para santri untuk bijak dalam bergaul, terutama di tengah pesatnya perkembangan media sosial. Ia menegaskan bahwa hubungan yang sehat tidak boleh diwarnai dengan paksaan ataupun permintaan yang bertentangan dengan norma dan nilai-nilai agama.
“Bila ada orang yang mengaku sayang tetapi meminta melakukan sesuatu yang tidak baik, itu bukan bentuk kasih sayang,” katanya.
Dalam dialog bersama pengelola pondok pesantren, Bunda Sinta menyampaikan harapannya agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu mencetak santri yang mandiri secara ekonomi. Ia mengusulkan pengembangan program pemberdayaan melalui pelatihan keterampilan usaha, pertanian, maupun kewirausahaan agar para lulusan memiliki bekal untuk menciptakan lapangan pekerjaan di daerah masing-masing.
Menurutnya, semangat berwirausaha juga sejalan dengan teladan Rasulullah SAW yang dikenal sebagai seorang pedagang.
Menutup arahannya, Bunda Sinta mengajak seluruh santri untuk memanfaatkan masa muda secara produktif dengan terus belajar, menjaga kesehatan, dan membangun cita-cita setinggi mungkin. Ia juga memberikan semangat kepada para santri yang orang tuanya bekerja di luar negeri agar tetap bangga terhadap perjuangan keluarga mereka dan menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
“Kita berharap kalian menjadi generasi yang lebih baik daripada orang tua kalian. Gunakan kesempatan belajar ini sebaik-baiknya agar masa depan kalian lebih terarah dan membawa manfaat bagi keluarga maupun masyarakat,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Dhiya Ul Falah, Awaludin, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut sekaligus memperkenalkan berbagai program pendidikan dan sosial yang dijalankan yayasan untuk mendampingi anak-anak yatim, piatu, serta anak-anak dari keluarga rentan.
Yayasan yang berdiri sejak 2021 itu hadir sebagai respons terhadap tingginya jumlah keluarga pekerja migran di wilayah tersebut. Banyak anak harus tumbuh tanpa pendampingan orang tua karena bekerja di luar negeri atau tinggal bersama kakek dan nenek akibat perceraian maupun keterbatasan ekonomi.
Saat ini, yayasan membina lebih dari 400 santri di jenjang TK, SD, dan SMP. Sebanyak 17 anak tinggal di asrama, sementara sekitar 75 anak yatim mendapatkan pendampingan secara intensif. Meski kebutuhan pendidikan dan konsumsi harian telah terpenuhi, keterbatasan fasilitas asrama masih menjadi tantangan yang dihadapi.
Selain bergerak di bidang pendidikan, Yayasan Dhiya Ul Falah juga aktif menjalankan berbagai program sosial. Selama Ramadan, yayasan menyalurkan sekitar 14 ton beras kepada masyarakat di lima desa dengan dukungan para donatur dari Singapura, Jerman, Inggris, dan Australia. Dalam waktu dekat, yayasan juga akan membangun 14 fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) di sejumlah lokasi.
“Kami berharap kunjungan ini dapat memperkuat dukungan dan kolaborasi, sehingga semakin banyak anak-anak yang merasakan perhatian, kasih sayang, dan kesempatan meraih masa depan yang lebih baik,”tutupnya.





