
Diduga Ada Rekrutmen Massal dan Manipulasi Informasi di Sidoarjo Sejak 1990
SIDOARJO,, patroli 86.com ,, 09 Agustus 2026 – Polemik antara insan pers dan dugaan jaringan pengendali informasi kembali memanas. Jurnalis asal Sidoarjo, Billy Pratama Raharjo, menyoroti adanya pola adu domba, manipulasi informasi, hingga peningkatan rekrutmen yang disebut berdampak pada keresahan massal hingga ke tingkat internasional.
Dalam pernyataannya, Billy menyebut pola penyebaran informasi ini sudah dimulai sejak awal 1990-an melalui berita surat koran dan penyebaran di tempat keramaian tukar cerita di Sidoarjo. Masuk tahun 2026, modus dan motifnya disebut semakin bervariasi mengikuti perkembangan zaman dan teknologi.
“Dari Gunung Turun Ke Kali, Dari Suara Turun Ke Hati”
Frasa tersebut dipakai Billy untuk menggambarkan cara kerja jaringan yang diduga menyusup secara bertahap. “Dari mana datangnya lintah dari gunung turun ke kali, dari mana datangnya oknum dari suara turun ke hati,” ujarnya.
Menurut Billy, para oknum ini membantu “operator alat utama” agar pekerjaannya lebih ringan dan sesuai rencana. Sasaran utamanya disebut penyebaran narasi dokrin utama yang memicu inflasi, keresahan sosial, hingga teror besar-besaran di tiap desa yang berlanjut pada internasional dengan strategi bom waktu.
Masyarakat yang terlihat diam disaat mereka sudah mengetahui banyak informasi akan diredam dengan candaan dan bantuan oprasinal terlebih dahulu lalu pada saatnya mereka akan menjadi boneka untuk menyerang target secara serentak sama seperti demo atau aksi besar besaran dengan massa aksi yang banyak.
“Saat ini hampir 90% sudah terdampak dan tersebar menyeluruh ke masyarakat hingga pelosok,” kata Billy. Ia menekankan dampaknya tidak hanya sedunia, tapi juga masuk ke negara Indonesia dan wilayah Plosok desa.
Pola Lama, Wajah Baru
Billy memetakan 3 pola yang ia amati sejak 1990 hingga 2026:
1. Adu Domba dan Fitnah Terstruktur
Penyebaran informasi yang memecah kelompok masyarakat, tokoh agama, hingga perangkat desa. Tujuannya disebut untuk menciptakan ketidakpercayaan.
2. Manipulasi Informasi dan Inflasi Narasi
Isu ekonomi seperti harga bahan pokok digoreng secara masif untuk memicu kepanikan dan inflasi. Penyebaran awalnya lewat keramaian, kini beralih ke grup WhatsApp, TikTok, dan Facebook bukan hanya dari situ gempuran besar besaran terjadi hingga real live suara oprasinal alat melalui alat sadap biologis yang mereka gunakan selama 24 nonstop dari tahun 2000an.
3. Peningkatan Rekrutmen Jaringan
Rekrutmen dilakukan secara tertutup dengan memanfaatkan orang terdekat, ekonomi, dan politik lokal. Orang yang direkrut disebut bertugas menjadi “perpanjangan oknum dengan masing-masing peran” di wilayahnya.
4. Terorganisir nya seluruh oknum yang terlibat dalam kejadian seperti pencurian serentak, penculikan masal, judi online membeludak, penipuan dengan massa besar, pembunuhan berencana dengan melibatkan banyak orang, penjagaan oknum sipil/keamanan yang tersebar di berbagai titik, pendistribusian narkoba hingga mengunakan narkoba secara terbuka ditiap desa, melakukan intimidasi terhadap target dan aksi teror hingga pembunuhan.
Dampak yang Disorot
Billy menyebut dampak terbesar ada pada 3 hal:
– Keamanan sosial: Munculnya saling curiga antar warga di tingkat masyarakat
– Ekonomi: Kepanikan belanja dan penimbunan yang memicu kenaikan harga
– Kepercayaan publik: Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap media, pemerintah desa, dan aparat
– tingkat kematian dan penyakit meningkat
– pemicu inflasi pengangguran dan kriminalitas tinggi
– merusak investor asing dan menghancurkan negara
– dan berbagai macam hal lain yang berdampak besar karena kasus lama yang berkembang besar seperti saat ini semua dapat terjadi
“Ini bukan soal satu dua orang. Ini soal sistem penyebaran yang sudah mengakar 30 tahun lebih,” tegasnya.
Tanggapan dan Langkah Lanjut
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari aparat terkait tudingan adanya “jaringan” tersebut namun data tersebut sudah disimpan tiap masing masing instansi untuk dokumentasi laporan adanya kasus ini.
Billy menyatakan akan mengumpulkan data, testimoni warga, dan bukti digital untuk dilaporkan ke lembaga terkait. Meskipun diawasi ketat dan pemerintah daerah Sidoarjo membentuk tim pemantau informasi publik.
“Kami wartawan punya tugas meluruskan. Kalau ada yang main di balik suara, harus dibuka. Biar masyarakat tahu mana fakta, mana rekayasa,” tutup Billy.
Catatan Redaksi
Tudingan dalam berita ini merupakan pernyataan dari narasumber. Pihak-pihak yang disebut berhak memberikan hak jawab. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan mengecek kebenaran berita melalui sumber resmi.
Tim Investigasi Sidoarjo
Billy Pratama Raharjo 082245051934






