
SIDOARJO,, patroli 86.com ,, 09 Agustus 2026 — Nama Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi trending topic di media sosial dan pemberitaan dalam beberapa pekan terakhir. Pemicunya bukan hanya pidato dan kebijakan, tapi juga sorotan media asing yang mengaitkan pelemahan rupiah dan pasar saham Indonesia dengan arah kebijakan pemerintah baru.
Hingga awal Juli 2026, pembahasan soal “Indonesia terancam bangkrut” sempat ramai diperbincangkan, meski pemerintah membantah keras narasi tersebut.
1. Apa yang disorot media asing dan pasar
Beberapa laporan dan analisis investor global menyoroti 3 hal utama:
A. Pelemahan Rupiah
Rupiah memang mengalami tekanan signifikan. Data yang dikutip _The Straits Times_ mencatat rupiah melemah sekitar 14% sejak Prabowo mulai menjabat Oktober 2024 dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.
Pada akhir Juni 2026 rupiah bahkan sempat menembus Rp18.009 per dolar AS, dan di media sosial beredar unggahan lama Prabowo-Gerindra yang viral karena nilai tukar kini berada di kisaran Rp18.200.
Pengamat menyebut pelemahan juga dipicu ketidakpastian global, perang di Timur Tengah, dan gangguan Selat Hormuz.
B. IHSG Tertekan dan Dana Asing Keluar
Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi cukup dalam. Pada Juni 2026 IHSG sempat turun hampir 4% dan kembali ke bawah level psikologis 5.883. Mayoritas saham emiten bahkan ditutup di zona merah.
Data 100 hari pemerintahan Prabowo-Gibran mencatat capital outflow mencapai Rp31,6 triliun. Investor asing juga mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah hingga puluhan triliun rupiah.
C. Narasi “Sell Indonesia” dari Investor Global
Laporan The Straits Times menyebut investor khawatir dengan arah kebijakan yang dinilai semakin intervensionis dan populis. Program besar seperti Makan Bergizi Gratis dan penguatan peran Danantara, serta rencana memperketat kendali ekspor batu bara, sawit, dan nikel dianggap menambah risiko kebijakan.
Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras bahkan menyatakan keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia: “Saya sama sekali tidak mengenal Indonesia. Saya tidak akan memberi mereka kesempatan”.
Portfolio Manager Allspring Global Investments, Gary Tan, menyebut pendorong utama aksi jual adalah prospek bearish untuk rupiah dan kekhawatiran tentang ketidakseimbangan makro serta kredibilitas kebijakan fiskal.
2. Respons Presiden Prabowo
Prabowo beberapa kali angkat bicara merespons isu ini:
A. Menyalahkan “kebocoran” kekayaan ke luar negeri
Pada 23 Juni 2026 di Bangkalan, Prabowo menegaskan penyebab utama rupiah melemah adalah karena “kekayaan kita mengalir ke luar negeri”.
Ia menyebut dalam 22 tahun terakhir, dari total arus masuk 436 miliar dolar AS, yang keluar mencapai 343 miliar dolar AS. Prabowo juga menyorot praktik under-invoicing ekspor CPO, batu bara, dan komoditas lain yang merugikan devisa.
B. Membantah narasi “RI bakal kolaps”
Saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, 16 Mei 2026, Prabowo menyindir pihak yang meramalkan ekonomi Indonesia hancur karena rupiah melemah. Ia menyebut “Rakyat di desa tidak pakai dolar” dan menegaskan kondisi pangan serta energi nasional aman.
Ia juga menyebut Indonesia justru kebanjiran permintaan ekspor pupuk urea dan beras dari Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil.
C. Menyorot pidato dan sentimen pasar
Pengamat pasar mencatat 2 pidato Prabowo di Bangkalan 23 Juni dan Gorontalo 24 Juni turut memicu beragam tanggapan dan memengaruhi sentimen investor. Video “tolong hentikan beliau berpidato” juga viral di tengah pelemahan rupiah.
3. Penjelasan ekonom dan pemerintah
Ekonom menilai pelemahan bukan hanya karena faktor domestik. Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan lebih banyak dipengaruhi global seperti geopolitik dan harga minyak. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan pertumbuhan ekonomi 5,61% di kuartal I 2026 dan cadangan devisa 144,9 miliar dolar AS.
Pemerintah juga membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia untuk memperkuat pengawasan devisa hasil ekspor dan mencegah kebocoran.
4. Konteks di media sosial
Tagar #Prabowo, #RupiahMelemah, dan #IHSG mendominasi pembahasan. Warganet membandingkan cuitan lama Prabowo 2011-2018 yang mengkritik pelemahan rupiah, dengan kondisi saat ini. Kalimat Prabowo 2024 “Kalau Anda mau menghancurkan suatu negara, yang pertama hancurkan lah mata uangnya” juga kembali viral.
Kesimpulan
Hingga saat ini belum ada lembaga resmi, termasuk IMF atau media arus utama internasional, yang secara eksplisit menyatakan Indonesia “bangkrut”. Narasi itu lebih banyak muncul dari opini investor, analis pasar, dan diskusi di media sosial yang mengaitkan pelemahan rupiah, outflow dana asing, dan kebijakan populis.
Pemerintah melalui Presiden Prabowo menekankan bahwa tekanan saat ini adalah masalah struktural “kebocoran” dan sentimen global, bukan kebangkrutan. Namun pasar masih menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal dan bagaimana Danantara serta program prioritas dijalankan tanpa menggerus kepercayaan investor.







