
Denpasar – Semangat untuk berbagi dan membantu sesama menjadi prinsip hidup yang terus dipegang Sri Rahayu. Di usianya yang kini menginjak 69 tahun, perempuan kelahiran Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 12 Oktober 1957 ini justru semakin aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Bagi Sri Rahayu, kegiatan sosial bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan hati. Ia meyakini bahwa membantu sesama tidak selalu harus dilakukan melalui materi. Menurutnya, tenaga, waktu, dan kepedulian juga menjadi bentuk kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat.
Perjalanan hidup Sri Rahayu tidak selalu berjalan mulus. Setelah menempuh pendidikan di Jakarta hingga tingkat akademi dengan jurusan kesekretariatan, ia kemudian mengikuti suaminya yang bertugas di Padang. Pada 1986, ia memutuskan untuk menetap di Bali dan memulai kehidupan baru dari nol.
Berbekal tekad dan semangat pantang menyerah, Sri Rahayu merintis berbagai usaha. Mulai dari usaha sablon, menerima jahitan, mengelola usaha laundry, hingga menjadi pemasok berbagai produk kerajinan. Berbagai tantangan pernah dihadapinya, mulai dari keterbatasan modal hingga jatuh bangun dalam menjalankan usaha.
“Saya memulai semuanya dari nol. Modal tidak ada, tetapi saya selalu percaya bahwa selama mau berusaha, pasti ada jalan,” ujarnya.
Tidak hanya berkecimpung di dunia usaha, Sri Rahayu juga pernah aktif dalam bisnis pemasaran berjenjang. Berkat kegigihannya, ia bahkan berhasil mengikuti konferensi internasional di Kanada. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian yang paling berkesan dalam perjalanan hidupnya.
Namun, seiring bertambahnya usia, orientasi hidupnya mulai berubah. Ia memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Baginya, kebahagiaan tidak lagi diukur dari pencapaian materi, melainkan dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Keterlibatannya dalam Satgas Kemanusiaan telah membawanya ikut membantu berbagai aksi sosial, termasuk penyaluran bantuan bagi masyarakat yang terdampak banjir di Denpasar. Bersama sejumlah organisasi dan komunitas, ia terlibat dalam distribusi bantuan sembako secara langsung ke rumah-rumah warga.
Menurut Sri Rahayu, kegiatan sosial mengajarkan arti kebersamaan dan kepedulian. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Kalau ada tenaga, kita bisa membantu dengan tenaga. Kalau ada materi, kita bisa membantu dengan materi. Yang penting harus seimbang dan dilakukan dengan ikhlas,” katanya.
Saat ini, Sri Rahayu aktif mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan sosial. Di tengah kesibukannya sebagai seorang ibu, nenek, sekaligus pegiat sosial, ia tetap berupaya untuk terus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Baginya, perjalanan hidup yang penuh tantangan justru menjadi pelajaran berharga yang membentuk dirinya hingga saat ini. Dengan semangat berbagi yang tidak pernah padam, Sri Rahayu berharap semakin banyak orang yang tergerak untuk peduli terhadap sesama.









