
Kenyamanan, Nduga 18 September 2026 – FOTO PERTAMA YANG BIKIN SESAK:
Seorang pria Toraja pakai kaos hitam – senyum lebar sekali, giginya kelihatan. Dia peluk istrinya erat. Alm. Aris Sanda.
Di belakang mereka hamparan padang bunga pink Habema, Wamena. Indah, dingin, damai. Itu foto terakhir mereka bahagia.
Pria itu bukan pejabat. Dia sopir lajuran Wamena – Nduga. Tulang punggung logistik pedalaman.
Wanita di sampingnya bukan orang biasa – dia berprofesi guru dan tenaga medis pedalaman, perawat/bidan yang tiap hari obati mama-mama Papua di Puskesmas Mbua. Tidur di puskesmas kayu, obati warga yang bahkan tidak bisa bayar.
Mereka dari Toraja datang jauh ke Papua bukan untuk kaya. Mereka datang untuk mengabdi. 13 tahun.
SELASA, 15 SEPTEMBER 2026 – JAM 6 PAGI – TANJAKAN GUNUNG BOY, JALUR WAMENA – NDUGA:
Aris bawa mobil lajuran seperti biasa. Bawa beras, bawa obat, bawa penumpang.
Di tikungan sepi, diadang KKB OPM.
Penumpang yang pendeta dan anak-anak sekolah disuruh pulang jalan kaki ke arah Napua. Mereka selamat.
Aris ditahan. Karena dia orang Toraja, pendatang.
Dipaksa pegang bendera Bintang Kejora. Dipaksa teriak “Papua harus merdeka” sambil ditodong senjata laras panjang. Semua direkam.
Setelah itu, ditembak. Mobilnya dibakar bersama jasadnya di dalam.
Hangus.
RABU, 17 SEPTEMBER 2026 – PADANG HABEMA YANG DINGIN MENUSUK:
Seorang ibu pakai jaket merah. Dipapah warga dan prajurit. Jalannya goyah, kakinya hampir tidak kuat napak di rumput basah. Di belakangnya, ada bendera Merah Putih kecil yang dibawa TNI.
Di depannya, helikopter TNI AD sudah menyala, baling-baling berputar kencang, anginnya bikin jilbabnya berkibar.
Bagian paling terharu – yang bikin sesak:
4 prajurit TNI pakai helm baja, rompi anti peluru, senjata lengkap. Tapi bukan menarik kasar.
Mereka memeluk dan memapah lembut ibu itu.
> “Ayo Bu, pelan-pelan Bu…”
Ibu itu – istri Aris – tak kuat tahan tangis. Dia menengok ke belakang, ke arah Gunung Boy, tempat suaminya dibunuh dan dibakar kemarin. Tas kecil hitam di tangannya gemetar hebat.
Dia yang sehari-hari menguatkan pasien Papua yang sakit, hari ini dia yang tidak kuat berdiri.
KENAPA TNI HARUS JEMPUT PAKAI HELI?
TNI tahu betul. Kalau ibu tenaga medis ini dibiarkan sendirian di pedalaman setelah suaminya dieksekusi KKB karena dia pendatang, dia bisa jadi target selanjutnya.
Ini bukan operasi tempur. Ini operasi kemanusiaan.
TNI jemput dia bukan karena dia istri siapa-siapa. Tapi karena dia WNI, tenaga medis yang sudah mengabdi untuk Papua.
YANG BIKIN TERHARU SAMPAI SESAK – KALIMAT TERAKHIR:
Suami istri dari Toraja itu punya foto bahagia di padang bunga pink itu – bukti mereka pernah bahagia di Papua, bukti Papua pernah ramah untuk mereka.
Sekarang foto itu jadi kenangan terakhir.
Suaminya pulang tinggal nama, hangus terbakar di dalam mobil yang dia pakai untuk mengabdi 13 tahun.
Istrinya pulang naik helikopter TNI, menangis tanpa suami, tapi masih pakai seragam pengabdian. Dia masih harus mengabdi, meski suaminya sudah tak ada.
Di video dokumentasi TNI itu, terlihat jelas: Prajurit itu tidak hanya jemput. Dia peluk.
Itulah Indonesia yang sebenarnya. Di tengah kebrutalan KKB yang bakar hidup-hidup sopir Toraja, masih ada prajurit yang memapah lembut seorang istri tenaga medis yang kehilangan segalanya karena mengabdi di Papua.
Al-Fatihah untuk Alm. Aris Sanda – Sopir Toraja yang mati mengabdi.
Peluk paling kuat untuk ibu tenaga medis di jaket merah itu. Kuat Bu. Papua masih butuh ibu.
Pihak TPNPB Kodap III Ndugama Darakma mengklaim dan bertanggung jawab atas kejadian ini.
Jika kamu tenaga medis yang pernah mengabdi di pedalaman Papua, berita ini pasti bikin kamu nangis. Karena kamu tahu rasanya dinginnya Habema dan beratnya ditinggal pasangan saat masih harus mengabdi.
Tim Redaksi Investigasi
Billy Pratama Raharjo









