
SEMARANG — patroli 86.com – Nama Capt. S Joko, sosok nomor satu di jajaran PT Pelindo 3 Tanjung Emas Semarang, tidak banyak dikenal publik. Sebagai General Manager, pria kelahiran Kediri, Jawa Timur ini lebih fokus bekerja di belakang layar. Sesekali saja tampil di pertemuan pemangku kepentingan jika memang diperlukan.
“Bukan kami tidak mau berinteraksi dengan pemangku kepentingan lain, melainkan komitmen dan tanggung jawab menuntut untuk bersikap tepat pada setiap hal yang dilakukan,” ujarnya dalam perbincangan eksklusif di ruang kerjanya, Kompleks Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Memimpin sejak Oktober 2025, membawa pengalaman Bengkulu
Capt. S Joko menjabat sebagai General Manager sejak Oktober 2025. Sebelumnya, ia bertugas di Bengkulu, di mana sejumlah proyek strategis telah dijalankan — mulai dari pengerukan alur pelayaran hingga pengembangan fasilitas ekspor peti kemas. Jejak keberhasilan itulah yang kemudian membawanya memimpin pelabuhan tersibak di Semarang ini.
“Tanjung Emas kini berada di peringkat ketiga, setelah Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Namun target dan pesaing kami bukan sesama pelabuhan di dalam negeri, melainkan harus mampu bersaing secara global,” tegasnya.
Tanjung Emas sebagai pintu gerbang perdagangan dunia
Memimpin pelabuhan yang menjadi amanah dan kebanggaan masyarakat Semarang menuntut kesiapan dan tanggung jawab penuh.
“Tanjung Emas adalah instalasi vital. Selain menjadi penyangga arus barang dan penumpang, pelabuhan ini sekaligus pintu masuk perdagangan global,” tambah Joko penuh optimisme.
Dalam menjalankan tugas, ia memilih langkah yang cermat dan terukur. Setiap keputusan dikaji matang, tidak mencari sorotan, dan menghindari hal-hal yang berpotensi mengganggu stabilitas serta kondusivitas di lingkungan kerja.
Membangun sinergi lintas kementerian dan lembaga
Aspek lain yang menjadi perhatian utama adalah menjaga kinerja Pelindo 3 Tanjung Emas Semarang melalui kerja sama yang erat dengan berbagai pihak.
“Kami senantiasa membangun sinergi yang positif dan bergerak maju bersama. Banyak kementerian yang memiliki hubungan teknis serta peran pengaturan di lapangan,” ungkapnya.
Berbagai pihak berkontribusi dalam pengelolaan pelabuhan:
– Kementerian BUMN — pemegang saham mayoritas, mengarahkan kebijakan bisnis, pengangkatan jajaran direksi, restrukturisasi, serta kinerja keuangan;
– Kementerian Perhubungan — sebagai regulator teknis dan pembina operasional pelabuhan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, termasuk kerja sama dengan KSOP dan Otoritas Pelabuhan;
– Kementerian KKP, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta instansi keuangan terkait;
– Danantara — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, sebagai pemegang saham strategis.
Kerja sama lintas sektor ini menjadi fondasi agar Tanjung Emas terus tumbuh, berkembang, dan siap bersaing di kancah internasional.








