
Oleh: Harmain Rusli
patroli86.com
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya… dan akan berbicara dalam urusan publik ar-ruwaibidlāh.” Siapakah mereka? Nabi menjelaskan: “Orang-orang bodoh yang ikut campur dalam urusan publik.”
Hari ini, nubuat itu seperti sedang menggenapi dirinya sendiri. Kita hidup di tengah zaman ketika kebodohan tampil dalam balutan percaya diri, dan popularitas menjadi paspor untuk bicara apa saja tentang agama, politik, bahkan masa depan bangsa tanpa bekal ilmu maupun akhlak.
Ruwaibidlāh bukan sekadar istilah klasik dalam literatur Islam. Ia kini menjelma dalam rupa-rupa wajah modern: influencer viral yang bicara agama dengan logika nalar setengah matang; pejabat publik yang mengatur hidup orang banyak tanpa memahami hakikat konstitusi; dan barisan penyebar hoaks yang merasa paling benar sambil menuduh siapa pun yang tak sejalan sebagai sesat dan sesat pikir.
Gejala dekadensi ini semakin vulgar ketika jabatan publik justru diberikan kepada yang bising, bukan yang bijak; yang ramai di layar, bukan yang matang di nalar. Orang alim dijauhi, orang jujur dipinggirkan. Sebaliknya, yang fasik dipuji, yang terang-terangan menghina akal sehat justru dielu-elukan sebagai “pemimpin alternatif.”
Kita sedang menyaksikan hancurnya nilai meritokrasi. Dalam masyarakat yang dipimpin oleh ruwaibidlāh, kecakapan tidak lagi penting. Yang dibutuhkan hanyalah kamera, kata-kata kosong, dan algoritma media sosial. Politik digiring menjadi panggung drama, bukan lagi ruang nalar dan kebijakan.
Ini bukan sekadar soal moral. Ini tentang keselamatan publik. Ketika suara terbanyak tidak lagi mewakili yang terbaik, dan kebijakan lahir dari kebodohan yang dilembagakan, maka rusaklah peradaban dari dalam.
Kita boleh tidak sepakat soal ideologi, tapi kita harus sepakat bahwa publik patut dipimpin oleh orang yang paham urusannya. Bukan oleh ruwaibidlāh yang menjual kebodohan sebagai keberanian dan menjajakan ketidaktahuan sebagai kebenaran.
Maka waspadalah. Mungkin kita sedang hidup di zaman itu. Zaman di mana kebenaran dikalahkan oleh viralitas. Zaman di mana kebodohan menjadi kekuatan politik. Dan suara yang jujur, seperti tulisan ini, hanya akan dibaca oleh segelintir orang yang masih mau berpikir.
(Sulfi/patroli86.com)









