
JAKARTA, 14 September 2026 – Publik TNI dan Indonesia sedang berduka sekaligus murka. Sebuah foto sederhana menampilkan Serda TNI AU muda tersenyum di samping ayahnya yang memakai batik, kini menjadi simbol betapa mengerikannya budaya senioritas buta di asrama militer.
Prajurit dalam foto itu, yang di dadanya tertulis FARIS, telah tiada. Nyawanya melayang bukan di medan perang, bukan karena musuh negara, tapi karena salah beli mie dan buatnya.
SIAPA KORBAN?
Nama: Serda Ahmad Muzammil Farisa (AMF)
Umur: 22 Tahun
Asal: Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, Jawa Timur
Status: Anak sulung dari 3 bersaudara, putra dari Toni Eko Prasetyo (Kepala Bagian Protokol & Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Madiun) dan Retno Setyorini
Satuan: Bintara Dinas Psikologi TNI AU (Dispsiau) – Badan Pelaksana Pusat Mabes TNI AU, bertugas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta
Lama Dinas: Baru 1 tahun lebih
Ahmad dikenal sebagai anak baik, penurut, kebanggaan keluarga. Tidak pernah menyangka mess yang seharusnya jadi rumah kedua, justru jadi tempat eksekusi.
KRONOLOGI TRAGIS – DARI MIE KUAH JADI PETI JENAZAH:
Semua bermula dari perintah senior yang dianggap sepele.
RABU, 9 September 2026 – 23.00 WIB – Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Skadron Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Ahmad disuruh 4 seniornya membeli mie.
– Versi keluarga: Diminta mie kuah, yang dibawa mie goreng
– Versi lain: Diminta mie goreng, yang dibawa mie kuah
Perbedaan seporsi mie itu membuat 4 seniornya murka. Penganiayaan pertama terjadi. Ahmad dipukuli.
KAMIS, 10 September 2026 – 03.00 WIB Dini Hari
Ahmad yang sudah babak belur, kembali dianiaya untuk kedua kalinya di mess yang sama. Kali ini lebih brutal. Menurut ayah korban, hantaman benda tumpul menghajar bagian vital: dagu dan dada. Di jam itulah Ahmad menghembuskan nafas terakhir.
KAMIS, 10 September 2026 – 04.00 WIB
Telepon berdering di rumah Toni di Magetan. Kabar dari teman seangkatan Ahmad di Jakarta:
> “Pak, anak bapak meninggal karena kecelakaan saat pembinaan.”
Toni syok. Namun satu jam kemudian, telepon kedua masuk dari rekan lain yang jujur:
> “Pak, bukan kecelakaan. Anak bapak dianiaya senior.”
Kebohongan itu terbongkar. Keluarga kemudian menerima foto visum yang mengerikan: lebam hitam membiru di dagu, memar besar di dada bekas pukulan. Jauh dari kata kecelakaan.
PENUTUPAN YANG GAGAL:
Jenazah Ahmad sempat ditahan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta untuk autopsi. Baru pada Jumat 11 September 2026 pukul 01.00 WIB dini hari, peti jenazah tiba di rumah duka di Magetan dengan ambulans TNI AU.
Rumah duka di Desa Jonggrang langsung dipenuhi pelayat. Karangan bunga berjejer. Peti sempat dibuka keluarga untuk memastikan itu benar Ahmad. Luka di wajahnya masih terlihat jelas.
Dimakamkan di TPU Desa Jonggrang, Jumat dini hari.
Hingga hari ini, keluarga belum menerima hasil autopsi resmi lengkap dari Pomau.
4 PELAKU SUDAH DITAHAN – TAPI BAHASANYA BIKIN MURKA:
TNI AU melalui Kadispenau Marsma I Nyoman Suadnyana akhirnya buka suara:
> “TNI Angkatan Udara berkomitmen mengusut tuntas dugaan pembinaan berlebihan yang menyebabkan Serda AMF meninggal secara transparan.”
Pernyataan “pembinaan berlebihan” dan “bukan dianiaya tapi dibina” inilah yang bikin netizen meledak. Nyawa melayang kok dibilang pembinaan?
Keempat pelaku yang sudah ditahan Puspomau adalah rekan satu pangkatnya sendiri:
1. Serda MTSA
2. Serda JM
3. Serda MAD
4. Serda AH
Keempatnya kini dalam pemeriksaan Pomau TNI AU.
TUNTUTAN AYAH – MENANGIS DI DEPAN JENAZAH:
Toni Eko Prasetyo, sang ayah yang di foto kamu pakai batik hitam dengan ID biru, menangis histeris di depan wartawan:
> “Mohon kepada Pak Presiden, Pak KSAU, juga Kadis Psikologi agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya. Kami dari keluarga almarhum berharap ada sanksi yang setimpal kepada empat anggota senior anak kami yang mengakibatkan hilangnya nyawa anak kami.”
DPR TURUN TANGAN:
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono dan TB Hasanuddin mengecam keras:
> “Disiplin dan ketegasan adalah bagian dari militer, tapi tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan hingga menghilangkan nyawa. Ini harus jadi evaluasi total pembinaan prajurit.”
Kasus Serda Ahmad ini mengingatkan tragedi Prada Lucky Namo sebelumnya. Publik kini bertanya: Sampai kapan senioritas bak tuhan ini terus memakan korban? Hanya karena seporsi mie, seorang anak bangsa harus pulang tinggal nama.
Mie-nya mungkin sudah dingin. Tapi luka keluarga Ahmad tidak akan pernah sembuh.
Tim Redaksi Investigasi
Billy Pratama Raharjo








