
Sumbar- Patroli86.com- Hujan, Banjir dan Tanah longsor serta banyaknya korban jiwa sudah mereda di Sumatera Barat, tapi yang belum reda, yaitu derasnya seperti aliran air sungai tapi ada yang lebiih deras lagi, yaitu yang terlihat di media sosial ada bermacam ragam komentar yang ditampilkan, ada yang membela, ada yang menghujat ada yang mencari cari dan ada yang berlari kencang adapula yang menampilkan hasil karya tangan masyarakat kecil, tapi ada karya alat berat, semua itu tampil dalam suatu tragedi banjir bandang.
Bukit gagah berdiri, air turun kebawah menemui setiap perkampungan menyapa warga tanpa bicara atau suara tapi membawa bencana dan kematian, ratusan rumah dan ratusan nyawa manusia semua kandas terkubur dalam lumpur kematian, alam membawa kisah cerita yang memilukan, siapa yang disalahkan, apakah karya dari tangan masyarakat kecil atau hasil karya alat berat pengusaha rakus, tinggal kita yang jeli menterjemahkannya yang benar katakan benar dan yang salah itu jangan dikatakan benar
Jawaban ini ada didalam hati nurani kita yang jujur dan beriman. Terutama para pemain medsos
Bicara saja secara jujur jangan saling tuduh menuduh, salah menyalahi kepada siapapun juga, karena inilah ciri ciri diri kita sendiri yang menunjukkan sikap manusia yang tidak baik
“Tidak akan rusak alam itu, kalau bukan ulah manusia Dan sispa yang menanggung akibatnya” Itulah inti dari persoalannya. Memang kematian adalah sesuatu yang tidak bisa di tawar sedetikpun. Tapi, kita harus memahami bahwa
Taqdir atau kematian itu ada dua yaitu ada yang namanya Ajalullah
Dan ada namanya Ajalamusamma. Takdir Illahi dan Taqdir ikhtiar. Mari berhenti saling menyalahkan, tapi perbaiki diri, keluarga, kaum, Nagari/Desa
Sampai kepada Jiwa dan Hati Nurani Para Petinggi Pemerintah di Negeri ini jika ingin kedepannya tidak lagi saling tuding dan menghindari tanggung jawab.
Karena masing-masing kita punya tanggung jawab
Entah itu keluarganya yang menjadi korban, yang sampai saat ini belum di temukan
Yang rumahnya hilang entah kapan bisa berdiri kembali
Sekolah-sekolah yang hancur tempat generasi menimba ilmu
Jembatan penghubung suatu kampung dengan kampung lainnya runtuh. tempat petani bercocok tanam yang kini di tumpuki material berat yang tak mungkin tangan-tangan kecil mengangkatnya. Dan banyak lagi kerugian yang belum tercatat
Tolong kepada semua yang merasa memiliki hati nurani dan jiwa kemanusiaan.Kembalilah kepada Fitrahmu sebagai anak manusia, sebagai masyarakat dimanapun kita berada, sebagai Warga Negara yang katanya Demokrasi dan kemanusiaan yang adil juga beradab. Sudah hilangkah Pancasila itu dari fikiran dan pemahaman kita bersamaali sebagai warga Negara yang berlandaskan pancasila Dan UUD 1945
Coba renungkan satu kata pada setiap tindakan kita
“Manusia lahir tampa membawa apa-apa, dan Mati juga tidak akan membawa apa-apa”
Team







