
*Solok, http://Patroli86.com* – Rabu, 3 Juni 2026
Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau LKAAM Kabupaten Solok resmi memiliki kepengurusan baru. Ketua dan seluruh anggota pengurus LKAAM Kabupaten Solok periode 2024-2029 dikukuhkan di Islamic Center Koto Baru, Rabu 3/6.
Pengukuhan ini digelar setelah kursi ketua LKAAM Solok lowong akibat meninggalnya Ketua LKAAM sebelumnya, Mendiang H. Gusmal Dt. Rajo Lelo. Selama masa transisi, jabatan ketua sementara dipegang oleh Wakil Ketua I.
Melalui Musyawarah Luar Biasa Muslub, terpilih Drs. Reflidon, MM Dt. Kayo sebagai Ketua LKAAM Kabupaten Solok yang baru.
Acara pengukuhan dihadiri sekitar 195 pengurus dan undangan. Turut hadir Ketua LKAAM Sumbar Prof. Dr. Fauzi Bahar, MSE Dt. Sati bersama Sekretaris Umum LKAAM Sumbar Drs. Jasman, MM Dt. Bandaro Bendang beserta jajaran, didampingi Brigjen Purn. Khairul Anwar, SE, MM.
Dari unsur pemerintah dan adat hadir Pucuak Undang Kabupaten Solok H.C. Jon Firman Pandu, SH Pono Manih, Dandim, Kapolres Solok, Wali Kota Solok H. Rusli Dt. Rajo Sulaiman, perwakilan Kabupaten Agam Junaidi, SH, MH Dt. Gampo Alam, Kabupaten Sijunjung Zulmafitra Dt. Jo Lelo, Padang Panjang H. Khairil Anwar Dt. Mulia, dan Pasbar H. Anwir Dt. Mandaro. Ketua Bundo Kanduang Sumbar dan Kabupaten Solok juga tampak hadir. Perwakilan dari Negeri Sembilan Malaysia, Ahmad Husaini Bin Hamzah, turut menyaksikan prosesi ini.
Dalam pengukuhan, pati ambalau disampaikan Ketua LKAAM Sumbar Prof. Dr. Fauzi Bahar, MSE Dt. Sati. Beliau sekaligus mengambil sumpah jabatan seluruh pengurus untuk menjalankan falsafah _Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah_ ABS-SBK. Para pengurus juga mengucapkan sumpah sati Niniak Mamak: _“Kateh indak bapucuak, kabawah indak baurek, di tangah digiriak kumbang”_ sebagai komitmen menegakkan adat.
“Kita akan menegakkan hukum dan pidana adat dalam menegakkan ABS-SBK di Alam Minangkabau kepada pelanggaran yang tidak tersentuh hukum positif. Sebagai contoh, sudah sama-sama kita ketahui ada beberapa pelanggaran di tengah masyarakat. Hal ini perlu kita tegas dan tegakkan bersama,” tegas Prof. Fauzi Bahar.
“Sedapat mungkin kita berada dalam satu kapal, seperti kata falsafah _Kailie sarangkuah dayuang, kamudiak sarantak galah, saciok bak ayam, sadanciang bak basi_. Jangan sampai kita terpecah dalam menjalankan aturan dan hukum warisan nenek moyang Minangkabau,”
Harapan yang sama disuarakan seluruh masyarakat Minangkabau. Di tengah maraknya informasi dan penyakit masyarakat yang meresahkan di kampung maupun rantau, peran LKAAM diharapkan semakin kuat menjaga marwah adat.
Team







