
Patroli86.com – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, membuka Kick Off Meeting Provinsi Nusa Tenggara Barat Menuju Emisi Nol Bersih (Net Zero Emission/NZE) Tahun 2050 di Mataram, Kamis (4/6).
Melalui Kick Off Meeting ini, Pemerintah Provinsi NTB bersama para pemangku kepentingan berkomitmen memperkuat langkah kolaboratif dalam menyusun peta jalan yang lebih komprehensif dan implementatif guna mewujudkan target Net Zero Emission 2050 sekaligus menjadikan energi terbarukan sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam arahannya, Gubernur menegaskan bahwa pengembangan energi terbarukan bagi NTB bukan hanya persoalan lingkungan dan upaya mengatasi perubahan iklim, tetapi juga merupakan strategi penting untuk membangun kemandirian dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kalau bagi banyak negara isu energi terbarukan hanya terkait penurunan emisi dan perubahan iklim, bagi NTB lebih dari itu. Renewable energy adalah isu potensi ekonomi. Kita diberkahi Tuhan dengan sumber daya energi terbarukan yang luar biasa dan harus mampu memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Gubernur.
Menurutnya, NTB memiliki berbagai sumber energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari energi surya, tenaga air, angin, biomassa, arus laut, gelombang laut hingga potensi pemanfaatan gravitasi air. Potensi tersebut menjadikan NTB sebagai salah satu daerah yang memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan energi bersih nasional.
Gubernur mengungkapkan bahwa tingkat radiasi matahari di NTB termasuk yang tertinggi, sehingga sangat potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya. Selain itu, keberadaan 77 bendungan yang tersebar di NTB juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung dan tenaga air secara bersamaan.
“Kita memiliki potensi yang hampir tidak terbatas. Kalau seluruh potensi energi ini bisa dimanfaatkan secara optimal, NTB tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri, tetapi juga menjadi pemasok energi bersih bagi daerah lain,” katanya.
Lebih lanjut, Gubernur menjelaskan bahwa pengembangan sektor energi menjadi salah satu fokus kerja sama regional Bali–NTB–NTT yang telah disepakati bersama. Dalam kerja sama tersebut, sektor energi menjadi salah satu bidang prioritas melalui rencana pengembangan super grid yang menghubungkan NTT, NTB dan Bali.
“Integrasi energi menjadi penting untuk menciptakan skala ekonomi yang lebih besar. NTB dan NTT memiliki potensi sebagai pemasok energi terbarukan, sementara Bali menjadi pusat permintaan energi. Karena itu, konektivitas melalui super grid menjadi sangat strategis,” jelasnya.
Meski demikian, Gubernur menilai masih diperlukan penyempurnaan roadmap NZE NTB agar lebih mampu mengakomodasi seluruh potensi energi terbarukan yang dimiliki daerah. Ia juga menekankan pentingnya harmonisasi antara kebijakan daerah dan kebijakan pemerintah pusat agar target transisi energi dapat berjalan efektif.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengembangan energi terbarukan bukan semata persoalan pembiayaan atau teknologi, melainkan konsistensi komitmen politik dan keberlanjutan kebijakan.
“Di seluruh dunia, tantangan terbesar energi terbarukan bukan soal potensi atau pembiayaan, tetapi political commitment. Konsistensi kebijakan menjadi faktor utama keberhasilan transformasi energi,” tegasnya.
Sementara itu, CEO sekaligus Pendiri Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyampaikan komitmen lembaganya untuk mendukung Pemerintah Provinsi NTB dalam mewujudkan target Emisi Nol Bersih Tahun 2050.
Menurut Fabby, IESR siap memberikan dukungan melalui pemodelan sistem energi dan kelistrikan, advokasi kebijakan nasional, fasilitasi akses pembiayaan internasional, penguatan kapasitas sumber daya manusia daerah, hingga pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi yang transparan.
Ia menjelaskan bahwa studi yang telah dilakukan IESR menunjukkan sistem kelistrikan Pulau Sumbawa berpotensi mencapai 100 persen energi terbarukan pada tahun 2050 dengan kapasitas terpasang mencapai sekitar 2 gigawatt.
“Transisi energi bukan hanya soal perubahan iklim, tetapi juga tentang ketahanan energi, ketahanan fiskal dan kedaulatan ekonomi. NTB memiliki peluang besar untuk menjadi contoh pengembangan energi bersih di Indonesia,” ujarnya.
Fabby juga menilai kerja sama regional Bali–NTB–NTT menjadi momentum penting untuk mempercepat realisasi investasi energi terbarukan, termasuk pengembangan super grid yang dapat meningkatkan daya tarik investasi dan memperluas pasar energi bersih di kawasan timur Indonesia.








