
Kalbar,, patroli 86.com ,, Gubernur… Kalbar kok tipis amat telinganya? Baru dikritik bocah soal jalan rusak saja sudah langsung ‘kena mental’
terus main tuduh sana-sini. Pakai bawa-bawa istilah “amoral” segala lagi lewat Kadis-nya. Luar biasa!
Nih, dengerin ya narasi gaya saya buat nyentil drama “Gubernur vs Bocil” ini:
REZIM ANTI-KRITIK: KETIKA MULUT BOCIL LEBIH JUJUR DARI JANJI GUBERNUR!
Permisi nih Pak Ria Norsan,
saya mau tanya… Bapak ini Gubernur atau detektif amatiran? Kok bisa-bisanya anak kecil protes jalanan rusak di Sepauk,
bukannya langsung kirim aspal, malah kirim tuduhan? Pakai bilang “digerakkan pihak lain” dan “bernuansa politis”.
Halo, Pak? Sadar Pak! Itu bocah-bocah tiap hari lewat jalan rusak, baju sekolah kotor kena lumpur, mungkin ban sepeda mereka bocor gara-gara lubang
sedalam sumur. Itu namanya suara rakyat murni, bukan pesanan politik! Bapak jangan baperan dong.
Masa sekelas Gubernur musuhannya sama bocil? Malu sama jabatan!
Lucunya lagi, Kadis PU-
malah nambah bumbu pakai istilah “Tindakan Amoral”.
Amoral itu kalau pejabat makan duit rakyat tapi jalanan dibiarin hancur!
Amoral itu kalau rakyat menjerit minta haknya, malah dituduh ditunggangi!
Bukan anak kecil yang bicara jujur soal penderitaan
, mereka yang disebut amoral. Jangan kebalik dong logikanya!
Bapak nggak bisa bedakan mana kritikan yang murni karena “perut lapar & jalan hancur”
sama mana yang “kepentingan politik”? Kalau jalanan bagus, mulus, dan kinclong, mau digerakkan sama lawan politik
mana pun, rakyat bakal bela Bapak! Tapi kalau faktanya jalanan mirip kubangan kerbau, ya jangan salahkan kalau bocah SD pun paham kalau
Bapak GAGAL kerja!
Saran saya sih sederhana:
Berhenti Lempar Tanggung Jawab: Jangan hobi nyari kambing hitam.
Kambingnya sudah capek, Pak.
Kerja, Bukan Menuduh: Turun ke Sepauk, bawa alat berat, perbaiki jalannya. Selesai masalah!
Hargai Suara Bocah: Karena terkadang, kejujuran itu hanya ada di mulut anak kecil yang belum belajar cara menjilat pejabat.
Jangan sampa(SUANI)








