
SALATIGA – patroli 86.com ,, Menanggapi pernyataan yang disampaikan oleh Mohammad Sofyan, Advokat Adi Utomo, SH. memberikan hak jawab dan menegaskan agar pihak lawan tidak berlarut-larut membuat alasan atau mencari kambing hitam. Menurutnya, tantangan adu data yang dilontarkan adalah cara paling jujur dan transparan untuk menguak kebenaran.
“Kami menilai alasan yang disampaikan hanyalah upaya untuk menghindar dan mengalihkan isu. Jika memang legalitas klien Anda kuat dan tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus takut untuk membandingkan data secara terbuka? Justru dengan duduk bersama, publik bisa melihat siapa yang memegang fakta dan siapa yang sekadar berteori,” tegas Adi Utomo, SH.
Tanggapan Terkait Legalitas dan Abuse of Power
Mengenai penyangkalan terkait status koperasi, Adi Utomo menegaskan bahwa fakta di lapangan berbicara lain. Meskipun izin AHU masih tercatat aktif, namun realitas operasional dan mekanisme pembayaran yang tidak berjalan sesuai janji adalah bukti nyata adanya masalah serius dalam manajemen.
“Tuduhan soal abuse of power atau kesalahpahaman itu tidak relevan jika fakta di lapangan menunjukkan bahwa uang anggota tidak kunjung kembali. Jangan mempersulit masalah dengan bahasa hukum yang ruwet, padahal intinya sederhana: anggota ingin hak mereka dipenuhi,” ujarnya.
Adi Utomo juga menyoroti alasan bahwa isu ini hanya cocok dibahas di pengadilan. Menurutnya, ketika kasus ini sudah menjadi konsumsi publik dan meresahkan masyarakat, maka ruang publik juga menjadi tempat yang sah untuk mengklarifikasi kebenaran.
“Jangan jadikan pengadilan sebagai tameng untuk menutupi kelemahan data. Kami siap beradu fakta kapan saja, di mana saja, dan dengan mekanisme apa pun asalkan objektif. Jangan hanya berjanji akan menjelaskan di ‘waktu yang tepat’, karena bagi para anggota, setiap hari yang berlalu adalah waktu yang sangat berharga,” tambahnya.
Tantangan Tetap Terbuka
Hingga saat ini, Adi Utomo menegaskan bahwa tantangan untuk melakukan adu data dan bukti masih tetap terbuka. Ia berharap Mohammad Sofyan dapat menerima tantangan tersebut dengan kepala dingin dan berani mempertanggungjawabkan setiap argumen yang disampaikan di hadapan publik.
“Kami tidak mau berdebat layaknya ayam dan telur. Kami ingin melihat bukti otentik dan data valid. Jika memang benar, buktikan. Jika tidak, jangan bertele-tele,” pungkas Adi Utomo, SH.
(Red/Panji)







