
PATROLI 86.COM ,, Rangkaian teror di Kecamatan Air Upas kini memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Setelah puluhan kasus pembakaran yang belum sepenuhnya terungkap,
warga kembali dihadapkan pada dugaan ancaman yang berkaitan dengan penguasaan lahan itu
Peristiwa terbaru dialami oleh seorang warga, Pak Sayung, pada Sabtu, 28 Maret 2026. Ia menemukan sepucuk surat yang tertancap di dinding pondoknya. Isi surat tersebut jelas mengarah pada tekanan agar lahan diserahkan untuk kepentingan tambang bauksit, disertai ancaman kekerasan.
Yang membuat situasi semakin janggal, di sekeliling lahan miliknya ditemukan pita berwarna oranye yang terpasang sebagai penanda batas. Di kalangan masyarakat Air Upas,
pita semacam ini bukan hal asing dan kerap dikaitkan dengan aktivitas penandaan lahan oleh pihak tertentu menurut keterangan nya kepada publik
Sehari setelahnya, saat melakukan pengecekan, Pak Sayung menemukan keberadaan panel surya dan sebuah tenda terpal di dalam area yang telah ditandai tersebut.
Temuan ini memunculkan pertanyaan: siapa yang lebih dulu menguasai lokasi itu, dan untuk kepentingan apa?
Keesokan harinya, bersama keluarga dan Ketua RT, ia kembali ke lokasi. Situasi berubah tegang ketika dari dalam tenda
, terdengar suara yang meminta agar tidak ditembak. Seorang pria kemudian keluar sambil membawa senapan angin. Dalam kondisi penuh kewaspadaan, terjadi
, aksi saling tembak sebelum pria tersebut melarikan diri dan menghilang di area sekitar.menurut tuturnya
Jejak yang ditinggalkan sempat diikuti warga, namun akhirnya terputus. Aparat kepolisian yang datang ke lokasi langsung melakukan penyisiran, namun hingga kini belum ada penjelasan resmi
yang mampu menjawab berbagai kejanggalan di lapangan.itu menurut salah satu pak dayung
Rangkaian peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah semua ini sekadar insiden terpisah,
atau ada pola yang sedang bergerak secara sistematis?dari pihak tertentu mm enulut anilisis,
Kehadiran surat ancaman, penandaan lahan, keberadaan orang tak dikenal yang sudah lebih dulu berada di lokasi, hingga keberanian menggunakan senjata, menjadi potongan-potongan peristiwa yang sulit diabaikan begitu saja.
Masyarakat Air Upas kini tidak hanya menghadapi rasa takut, tetapi juga ketidak pastian. Mereka menunggu langkah tegas dan transparan dari aparat, agar berbagai spekulasi yang berkembang tidak semakin liar.
Sebab jika tidak segera dijelaskan, yang tumbuh bukan hanya rasa cemas, melainkan juga kecurigaan.
Sumber : Firminus Goda(SUANI)







