
Oleh: Irfandi R. HI Mustafa
Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
Wakil Sekretaris GP Ansor Maluku Utara
Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi teknologi, pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sekolah semakin didorong mengejar angka, capaian akademik, dan kompetensi kerja, namun perlahan mulai melupakan misi utamanya, yaitu membentuk manusia yang berkarakter. Pendidikan yang hanya berorientasi pada prestasi akademik tanpa memperkuat akar budaya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam jati diri.
Maluku Utara sesungguhnya tidak kekurangan sumber nilai untuk menjawab tantangan tersebut. Warisan peradaban Kie Raha yang lahir dari empat kesultanan besar—Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan—menyimpan falsafah hidup yang telah teruji oleh sejarah. Nilai musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, keseimbangan dengan alam, serta semangat persaudaraan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pedoman hidup yang masih relevan menghadapi dinamika zaman.
Sudah saatnya falsafah Kie Raha tidak hanya dikenang sebagai kebanggaan sejarah, tetapi dihadirkan kembali sebagai bagian dari sistem pendidikan. Kurikulum Merdeka membuka ruang bagi daerah untuk mengembangkan pembelajaran yang berakar pada budaya lokal. Kesempatan ini harus dimanfaatkan agar peserta didik mengenal identitasnya sendiri sebelum mengenal dunia yang lebih luas.
Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori di ruang kelas. Laut, gunung, benteng, situs kesultanan, hingga tradisi masyarakat Maluku Utara merupakan ruang belajar yang hidup. Dari sana peserta didik dapat memahami nilai gotong royong, kepemimpinan, kejujuran, solidaritas, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam yang diwariskan para leluhur.
Karena itu, transformasi pendidikan berbasis Kie Raha perlu diwujudkan melalui tiga langkah utama. Pertama, mengintegrasikan nilai-nilai Kie Raha ke dalam seluruh mata pelajaran sebagai fondasi pembentukan karakter. Kedua, menjadikan lingkungan budaya dan sejarah Maluku Utara sebagai laboratorium pembelajaran sehingga siswa belajar langsung dari realitas kehidupan masyarakat. Ketiga, memperkuat kapasitas guru agar mampu menerjemahkan falsafah lokal ke dalam metode pembelajaran yang relevan bagi generasi digital.
Di tengah pesatnya hilirisasi industri dan eksploitasi sumber daya alam di Maluku Utara, pembangunan manusia tidak boleh tertinggal. Kemajuan ekonomi memang penting, tetapi tanpa fondasi karakter yang kuat, masyarakat hanya akan menjadi penonton di tanahnya sendiri. Kekayaan alam dapat habis, tetapi nilai-nilai budaya akan tetap menjadi modal utama dalam membangun peradaban.
Falsafah Kie Raha menawarkan jalan tengah antara kemajuan dan kearifan. Pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas lokalnya. Generasi yang memahami teknologi, tetapi tetap menjunjung tinggi etika. Generasi yang berani berinovasi, namun tidak melupakan akar budayanya.
Masa depan Maluku Utara tidak hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam, melainkan oleh kualitas manusianya. Oleh sebab itu, menghidupkan kembali falsafah Kie Raha dalam dunia pendidikan bukanlah romantisme sejarah, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun karakter merdeka, berdaulat, dan bermartabat bagi generasi Maluku Utara dan Indonesia.
Penulis:Irfandi R.Hi Mustafa








