
Surabaya, 13 September 2026 – Sejumlah pernyataan yang berisi teori konspirasi terkait bencana alam dan “pemusnahan bangsa” viral di media sosial. Isinya dari mantan tenaga ahli KSP, pejabat Bakom, presiden Prabowo Subianto hingga purnawirawan Polri. Pemerintah dan ahli telah memberikan tanggapan.
Gelombang yang mengaitkan bencana alam di Indonesia dengan aktor asing kembali viral sepanjang September 2026. Ada 4 narasi utama yang beredar: tuduhan keterlibatan HAARP dalam erupsi 6 gunung, klarifikasi dari pejabat pemerintah, dan klaim soal “Agenda 2030 untuk memusnahkan Nusantara”.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG, PVMBG, Pakar geologi dan lembaga resmi lainnya menegaskan bahwa erupsi gunung adalah fenomena geologi alamiah dan tidak terkait senjata cuaca.
1. NARASI PERTAMA: TUDUHAN “HAARP & ALAT ANTEK ASING” DIBALIK ERUPSI 6 GUNUNG
Video pertama yang memicu kegaduhan berasal dari acara talkshow di kanal YouTube DISWAY TV. Narasumbernya adalah Ulfa Levenia Nababan, yang disebut sebagai mantan tenaga ahli utama KSP.
Dalam video berjudul di layar “Pernyataan Ahli KSP soal HAARP Bikin Gaduh, Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung?”, Ulfa menyampaikan sejumlah “kecurigaan” terkait bencana alam.
Poin utama yang ia sampaikan:
Pertama, ia mengaitkan “gesekan Turki dan Cina dengan Amerika” dengan gempa besar di Turki beberapa hari setelahnya. Kedua, ia menghubungkannya dengan situasi di Indonesia. “Terus ke Aceh dan Papua juga bergejolak,” ujarnya. Ia juga menyebut Kalimantan dan erupsi 6 gunung di Indonesia.
Ketiga, ia menyebut melihat sebuah film yang “merangkum semua hal-hal keanehan itu”. Dari situ ia menarik kesimpulan pribadi. “Sehingga gue agak mungkin sekitar tujuh puluh-tiga koma lima persen gue kayak wah ini pasti ada yang organisasi deh gitu,” kata Ulfa. Ia juga menyinggung “demonstrasi si band itu tanggal 18”.
Dalam pernyataannya itu ia secara eksplisit menyebut HAARP dan “alat antek asing” sebagai dalang di balik kejadian tersebut.
Catatan: HAARP adalah proyek riset ionosfer milik AS. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menghubungkan HAARP dengan gempa atau erupsi gunung.
2. NARASI KEDUA: KLARIFIKASI DARI PEMERINTAH MELALUI DEPUTI BAKOM
Menanggapi viralnya video tersebut, Dudung, Deputi Bakom memberikan klarifikasi. Klarifikasi ini ditayangkan Nusantara TV dalam program “BOOMING” dengan format split-screen bersama Ulfa Levenia.
Dudung menyampaikan 2 poin penting.
Poin pertama soal status Ulfa. “Kan sudah bukan di KSP lagi. Dulu dia di staf KSP sebagai tenaga ahli utama. Tetapi sekarang sudah tidak. Dia sekarang salah satu deputi di Bakom. Jadi bukan anggota saya lagi,” tegas Dudung.
Poin kedua soal penyebab bencana. Dudung menolak narasi konspirasi. “Ya kalau masalah bencana alam eh kalau menurut saya kan itu dinamika alam lah ya. Dan para ahli juga sudah mempelajari kemudian melihat perkembangan saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Tentunya ini eh sudah saya punya keyakinan bahwa ini kan kehendak Yang Mahakuasa lah artinya memang dinamika alam sudah seperti ini dan tidak menurut saya tidak dikait-kaitkan dengan apalagi kepentingan dengan pihak luar dan sebagainya.”
3. NARASI KETIGA: KLAIM “AGENDA 2030 MAU MUSNAHKAN NUSANTARA”
Narasumbernya adalah Purn. Komjen Dharma Pongrekuen, yang disebut pernah menjabat sebagai Kepala BSSN.
Dalam pernyataannya itu, ia memegang kertas bertuliskan “WORLD ORDER – Agenda 21 / 2030 Milenium Goals” dan menyampaikan klaim keras.
Ia menyatakan, “MENGHANCURKAN. KARENA APA? TUJUAN MEREKA ADALAH MEMUNAHKAN BANGSA INI DARI PETA GLOBAL”. Alasannya, menurut dia, “ITU KARENA BANGSA INI ADALAH BANGSA YANG BEGITU KUAT DAN MEREKA TAKUT DENGAN KEKUATAN BANGSA INI YAITU APA? NUSANTARA”.
Terkait “Agenda 2030”, ia menuding, “JUSTRU JUSTRU NYONTEK. KAYAKNYA MEREKA BUKAN. MEREKA MAU MEREDUKSI SAMBIL MENYONTEK… GITU. MEREKA MEREDUKSI JADI KARENA MEREKA BISA MENGUASAI FISIK.”
4. ISI UTAMA PERNYATAAN PRABOWO:
1. Apresiasi & Evaluasi
Prabowo membuka dengan menyatakan pemerintah sudah berbuat maksimal.
> “Saya lihat kita sudah berbuat maksimal. Ini semua menjadi bahan untuk kita merencanakan langkah-langkah ke depan.”
2. Alasan: Indonesia di “Ring of Fire”
Ia menyoroti posisi Indonesia yang rawan bencana.
> “Sementara kan karena kita ada di ring of fire. Ternyata juga erupsi terjadi lagi di beberapa tempat ya. Di Sumatera Utara, Jawa Timur, Halmahera.”
3. Perintah Monitoring ke Semua Pihak
Prabowo meminta seluruh unsur terus memantau situasi.
> Dengan agak kebingungan “Ya ini kita monitor terus. Saya kira untuk sementara itu ya para Menteri, para Gubernur, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BNPB, BMKG, Kepala Badan Geologi…”
Ia meminta para kepala lembaga terkait bekerja sama lebih erat untuk memonitor bencana.
4. Wacana Integrasi Badan Geologi dan BMKG
Ini poin paling disorot. Prabowo melemparkan wacana penggabungan lembaga.
> “Nanti saya kira akan kerja sama lebih erat dengan yang lain ya untuk monitor ini. Nanti kita pikirkan apakah Badan Geologi itu harus diintegrasikan bersama BMKG ya. Tapi ya nanti kita bahas itu ya.”
Alasannya karena kedua lembaga sama-sama menangani mitigasi bencana geologi dan cuaca.
KONTEKS :
1. Format: Rapat virtual/daring yang diikuti oleh Menteri, Gubernur, TNI, Polri, BNPB, BMKG, dan Badan Geologi. Tampak di layar bawah video.
2. Latar Belakang: Pernyataan ini muncul di tengah maraknya erupsi gunung api di Indonesia pada September 2026, termasuk di Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Halmahera.
3. Sumber: Video dipotong dan diunggah oleh Kumparan dengan teks di layar: “Prabowo pertimbangkan integrasikan Badan Geologi dan BMKG: Karena kita ada di ring of fire”
KESIMPULAN:
Presiden Prabowo merespons peningkatan aktivitas vulkanik dengan 2 langkah:
1. Memerintahkan koordinasi lebih erat antar lembaga kebencanaan.
2. Mempertimbangkan integrasi Badan Geologi ke dalam BMKG agar penanganan bencana lebih efektif karena Indonesia berada di jalur “ring of fire”.
Catatan: Agenda 2030 adalah program PBB yang berisi 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Isinya terkait pengentasan kemiskinan, pendidikan, lingkungan, dan lainnya. Tidak ada klausul yang menyebut “pemusnahan bangsa”.
PENUTUP: AHLI TEGASKAN BENCANA ADALAH FENOMENA ALAM
Dari 4 pernyataan di atas terlihat adanya 3 kutub narasi. Kutub pertama menuduh ada konspirasi asing di balik bencana. Kutub kedua dari pemerintah yang menyebut itu “dinamika alam”. Kutub ketiga menuduh ada agenda global untuk melemahkan Indonesia.
Para ahli geologi dan BMKG secara konsisten menyatakan bahwa erupsi gunung api di Indonesia adalah hal biasa karena Indonesia berada di “Cincin Api Pasifik”. Status “siaga 3” pada Gunung Krakatau dan gunung lainnya adalah prosedur standar berdasarkan aktivitas vulkanik, bukan karena faktor eksternal.
CATATAN REDAKSI:
Artikel ini dirangkum dari video yang beredar di media sosial. Pernyataan dalam video merupakan data pribadi narasumber. Redaksi tidak dapat memverifikasi secara independen kebenaran klaim terkait “HAARP”, “Agenda 2030”, dan “pemusnahan bangsa”. Untuk informasi bencana, publik diimbau merujuk pada sumber resmi BMKG, PVMBG dan Pakar geologi belum ada kepastian.









