
Surabaya, 12 September 2026 – Sepanjang Juli hingga September 2026, media sosial diramaikan gelombang video terkait Papua. Perekamnya dari wakil rakyat, tokoh adat, kelompok bersenjata, hingga warga biasa. Isu utamanya sama: kekerasan yang menimpa warga sipil.
Publik kembali disuguhkan sederet video terkait situasi di Papua yang viral di TikTok, Facebook, dan media online. Total ada 16 video dengan sumber dari masyarakat asli Papua yang beredar sejak 24 Juli 2026. Ke-8 video itu menampilkan 8 sudut pandang berbeda, mulai dari tuntutan penarikan aparat, kecaman terhadap kelompok bersenjata, pengakuan, pembelaan, hingga narasi ekonomi.
1. SUARA DARI LEGISLATIF: KECAM PENEMBAKAN DI MAYBRAT DAN TUNTUT TARIK SATGAS
Video pertama bersumber dari Wilem Asem, Anggota DPRP Papua Barat Daya. Dalam rekaman berdurasi beberapa menit, ia menyampaikan kekecewaan keras atas penembakan yang terjadi di Kampung pinggir Sungai Kamundan, Distrik Timur Tengah, Kabupaten Maybrat.
Wilem menegaskan bahwa korban dalam peristiwa tersebut adalah warga sipil. “Korban adalah rakyat biasa, keluarga saya sendiri. Sedang di pemukiman, bukan OPM,” ujarnya. Ia menolak permintaan maaf dan menuntut negara untuk “mengungkap pelaku dari satgas petik bintang dari pos mana”.
Tuntutan paling keras yang ia sampaikan adalah agar Presiden Prabowo menarik seluruh Satgas dari wilayah tersebut dalam waktu 1×24 jam. Alasannya, kehadiran satgas disebut mempersempit ruang gerak masyarakat. “Ke kebun ditanya. Berburu ditanya,” kata Wilem. Ia juga menyebut ada korban perempuan yang “ditelanjangkan” dan ditembak. Di akhir video, Wilem berjanji akan “mengawal kasus ini sampai terungkap” dan meminta Forkopimda segera turun ke lokasi.
2. SUARA DARI TANAH ADAT: TOKOH MERAUKE KUTUK PEMBUNUHAN DI YAHUKIMO
Berbeda arah, video kedua datang dari Yulius Romeo Mahuze, Ketua Adat Kampung Imbuti, Kota Merauke. Video yang diunggah akun @trison1199 itu berisi kecaman terhadap aksi kelompok bersenjata.
Yulius menyampaikan kekecewaannya atas “kekejaman OPM di Yahukimo, Kabupaten Yahukimo” berupa pembunuhan terhadap masyarakat sipil. Ia menyebut kejadian itu “sangat disayangkan”.
Dalam pernyataannya, ia menekan kepada Kementerian HAM agar bertindak dan memproses hukum secara jelas. Selain itu, ia juga mengimbau seluruh warga Kampung Imbuti, Kota Merauke dan sekitarnya untuk selalu menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan stabil.
3. SUARA DARI PIHAK BERSENJATA: DARI PENGAKUAN HINGGA PERMOHONAN MAAF
Tiga video berikutnya berasal langsung dari narasumber yang disebut sebagai pihak kelompok bersenjata.
Video ketiga menampilkan seorang pria yang mengaku sebagai Jubir OPM dengan latar bendera Bintang Kejora. Ia membenarkan penembakan terhadap 3 ASN Dinas Pertanian Jayawijaya. “Wilayah perang ini orang Indonesia tidak diizinkan masuk,” katanya. Alasan yang diberikan adalah karena 3 orang itu “melarikan diri” saat diperiksa dan ada laporan “satu agen intelijen yang dikirim dari Jakarta”.
Jubir tersebut juga mengeluarkan ancaman. “Siapapun orang imigran atau orang asli Papua menjadi kaki tangan militer dan polisi Indonesia, agen TNI Polri wajib dibersihkan”. Ia melarang transmigrasi dari Jawa, Sulawesi, Sumatera, NTT, Maluku, Bali, dan Kalimantan. Menurutnya semua pekerjaan harus diisi oleh “orang asli Papua” karena “Orang Papua itu kan sudah sekolah”.
Video keempat menunjukkan kemunculan Egianus Kogoya, Panglima KKB Kodap III Nduga. Video dari Facebook @Nyamukcar Karunggu ini dirilis pada Jumat, 24 Juli 2026. Ini adalah kemunculan pertamanya setelah hampir 1 tahun menghilang dari pemberitaan.
Dalam video itu, Egianus tampil bersama Kepala Staf Kodap III Rumianus Wandikbo dan 13 pimpinan lainnya di tengah hutan. Mereka mengenakan atribut adat dan membawa senjata. Isi utama pernyataan adalah permohonan maaf terkait pembebasan pilot Susi Air asal Selandia Baru, Philip Mehrtens. Pilot tersebut disandera sejak 7 Februari 2023 di Distrik Paro dan dibebaskan hampir 1 tahun kemudian. Permintaan maaf disampaikan karena adanya “kesalahpahaman internal organisasi” setelah pembebasan tersebut.
Video kelima paling menghebohkan. dari akun @wahyusilamet725, seorang bapak-bapak berambut gimbal menjelaskan “struktur KKB saat ini”. Ia menyebut bahwa pengurus inti dijabat oleh “menteri HAM dan menteri itu ketua dan wakil ketua”. Untuk posisi bendahara, ia menyebut nama “Denis Kogoya” dan menggambarkannya sebagai “ganteng, kepala suku, komandan-komandan”. Ia juga menyebut “setiap biro-biro dia punya antek-anteknya”. Video ini ditutup dengan kalimat “Sampe disini su paham to?” dan caption yang menanyakan pendapat netizen soal “keterlibatan pejabat”. Catatan penting, ini adalah klaim sepihak dan belum ada bukti atau konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
4. SUARA DARI WARGA: DARI PEMBELAAN, BUKTI DIGITAL YANG DIUPLOAD DIMEDSOS, HINGGA NARASI EKONOMI
Tiga video terakhir berasal dari warga asli papua.
Ada beberapa video seorang mama-mama Papua menyampaikan pendapatnya. “OPM YG DISEBUT KKB ITU MEREKA JAGA hutan Emas kayu batu hutan dan tanah”, ia berkata: “OPM itu bukan teroris, bukan penjahat. Dia itu jaga di hutan sana. Jaga emas, kayu, batu, hutan, tanah. Dia tidak bikin kacau di kota”. muncul dugaan “mungkin mama orangnya OPM atau istrinya”.
Beberapa vidio juga menampilkan rekaman layar video call “Gunakan HP Korban Untuk Hubungi Keluarga, Pelaku Penembakan 3 ASN Dinas Pertanian Jayawijaya Tertawa diatas Duka Orang Lain”. Dalam video itu terlihat pelaku di layar utama dalam kondisi gelap dan tertawa santai. Ia berkata “kau sudah makan? Oh sudah makan. Napas tambah? Mau tambah?”. Sementara di layar kecil, keluarga korban bertanya dengan nada berduka “anak saya kenapa anak saya masalah apa kau bunuh?”. Video ini memicu kemarahan publik.
Salah satu video justru membawa narasi damai. Dari akun @kkbkelompokkerjabternak dan disebut berlokasi di Provinsi Papua Tengah, perekam memperkenalkan “KKB = Kerja Keluarga Bersama”. “KKB adalah tentang kebersamaan, kerja nyata dan harapan baru Untuk Papua yang lebih baik”, “Hari ini kita belajar, hari ini kita bekerja”, dan “Untuk memotivasi 1000 generasi yang akan naik”. Intinya adalah ajakan untuk fokus pada kerja ekonomi.
ANALISIS: EMPAT KUTUB NARASI BERTABRAKAN
Jika dirangkum, 16 video membentuk 9 kutub narasi yang saling bertabrakan. Kutub pertama menyalahkan aparat dan diwakili oleh Wilem Asem dengan tuntutan penarikan Satgas. Kutub kedua menyalahkan OPM dan diwakili oleh Yulius Romeo Mahuze yang menuntut proses hukum. Kutub ketiga adalah pembelaan dan pengakuan dari pihak OPM yang diwakili oleh Jubir OPM, Egianus Kogoya, dan pernyataan mama-mama Papua. Kutub keempat adalah upaya rebranding dan tuduhan struktur yang diwakili oleh video “Kerja Beternak” dan video pembongkaran struktur yang menyeret nama pejabat.
Benang merah dari seluruh video adalah sama-sama menyoroti korban warga sipil. Peristiwa di Maybrat disorot oleh wakil rakyat, sementara peristiwa di Yahukimo disorot oleh tokoh adat. Sementara itu, tuduhan adanya keterlibatan “menteri HAM dan menteri ESDM” dalam struktur KKB menjadi klaim paling serius yang memerlukan verifikasi lebih lanjut dari aparat penegak hukum.
CATATAN REDAKSI:
Artikel berita ini disusun berdasarkan 16 video yang beredar di media sosial dan bersumber dari narasumber yang mengaku masyarakat asli Papua. Redaksi hanya sebatas terkait narasumber dapat memverifikasi secara independen kebenaran isi, lokasi, dan identitas dalam setiap video, termasuk tuduhan keterlibatan pejabat negara.
Tim Redaksi Investigasi
Billy Pratama Raharjo
082245051934









